Nestapa Ortu Santri: Ikut Bangun Ponpes Herry Wirawan, Tak Tahu Anak Diperkosa

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pondok Pesantren  Madani Boarding School di Cibiru Kota Bandung punya Herry Wirawan yang Perkosa 12 Santri. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pondok Pesantren Madani Boarding School di Cibiru Kota Bandung punya Herry Wirawan yang Perkosa 12 Santri. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Pembangunan pondok pesantren (ponpes) milik Herry Wirawan di Cibiru, Kota Bandung, ternyata tak hanya dari tenaga para santriwati yang dipaksa menjadi kuli bangunan, namun juga mendapat bantuan dari para orang tua santri.

Para orang tua santri ini menyumbang sesuai kemampuan masing-masing, ada yang memberi kayu, bahkan tenaga. Para orang tua ini tak menyangka ponpes yang dibangun dari jerih payah mereka malah menjadi lokasi anaknya diperkosa Herry Wirawan.

"Mirisnya selama pesantren itu dibangun, itu dibantu juga oleh orang tua murid, misalnya ada yang nyumbang kayu, ada nyumbang tenaga, tapi mereka tidak tahu anaknya diperlakukan seperti itu oleh pelaku," ujar Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut, Diah Kurniasari, Jumat (10/12).

Pengasuh sekaligus pemilik pondok pesantren (ponpes) di Cibiru, Kota Bandung, Herry Wirawan yang memperkosa 12 santrinya. Foto: Dok. Istimewa

Menurut Diah, Herry Wirawan memang awalnya mengelola ponpes di kawasan Antapani secara benar bersama istrinya.

Di Antapani, Herry Wirawan memiliki dua ponpes, yakni Pondok Tahfidz Al Ikhlas dan Yayasan Manarul Huda Antapani (Madani). Sementara ponpes di Cibiru diberi nama Madani Boarding School.

"Jadi memang sebenarnya pesantren ini awalnya bener, itu (awalnya) di Antapani itu (dikelola) bersama istrinya, tapi karena orang ini memang mencari modusnya dengan proposal, akhirnya mendapat bantuan dibangunlah pesantren yang di Cibiru ini, nah itu awalnya seperti itu," terang Diah.

Madani Boarding School, di Kompleks Yayasan Margasatwa, Kecamatan Cibiru, milik Herry Wirawan. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Para santriwati ponpes Herry Wirawan kebanyakan berasal dari Garut, Sumedang, hingga Ciamis. Mereka mondok di ponpes milik Herry Wirawan karena iming-iming sekolah gratis.

Menurut Diah, mayoritas pekerjaan orang tua santri adalah buruh lepas hingga petani. Karena iming-iming biaya gratis, mereka pun dengan senang menyekolahkan anak-anaknya di ponpes yang dikelola Herry Wirawan, tak disangka anak-anak mereka malah menjadi korban pemerkosaan.

"Orang tua mereka ini rata-rata adalah buruh lepas yang jual kitab, yang itu (membuat) jok, ada yang cuma petani, karena mereka ingin anak sekolah makanya gratis di sana seperti itu," pungkas Diah.

Pondok Tahfiz Al-Ikhlas di Jalan Sukanagara, Antapani Kidul yang dikelola Herry Wirawan. Foto: Dok. Istimewa

Lembaga Perlindungan Korban dan Saksi (LPSK) yang memantau jalannya sidang, juga menyoroti pembangunan ponpes milik Herry Wirawan karena para santri dipaksa menjadi kuli bangunan. LPSK pun meminta Polda Jabar mengusut masalah eksploitasi ini.

"Para korban dipaksa dan dipekerjakan sebagai kuli bangunan saat membangun gedung pesantren di daerah Cibiru," ujar LPSK dalam keterangan resminya.

Menurut dakwaan jaksa, korban pemerkosaan Herry sebanyak 12 orang. Namun, menurut Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut, Diah Kurniasari, jumlah korban mencapai 21, semuanya anak di bawah umur.