Ombudsman Sumut Soroti PPDB Bermasalah saat Registrasi
·waktu baca 3 menit

Ombudsman Sumut menilai proses pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA semrawut. Sejumlah persoalan dihadapi siswa saat pendaftaran online.
“Pertama saya lihat aplikasi kacau ya jadi, kayaknya tidak dipersiapkan dengan matang,” ujar anggota Ombudsman Sumut, Abyadi Siregar, saat sidak ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sumut, Selasa (8/6)
Abyadi datang ke Disdik lantaran, laporan orang tua siswa soal aplikasi PPDB. Di lokasi ini, Abyadi melihat puluhan orang tua siswa menyampaikan keluhan serupa.
Dari catatan Abyadi, pendaftaran PPDB dimulai 7 hingga 9 Juni. Namun di hari pertama pendaftaran, sudah terjadi persoalan, terutama saat calon peserta didik memilih tujuan sekolah.
“Misalnya pilihan awal SMA 3 Medan, tapi ternyata yang (terpilih) jadi SMA 1 Pantai Labu,’ ujar Abyadi.
Selain itu, di aplikasi PPDB tidak secara rinci menjelaskan jalur siswa mendaftar. Padahal ada 3 kriteria jalur yang dimasuki calon peserta didik.
“Tidak terlihat pilihan jalur zonasi, afirmasi, dan prestasi,”ujar Abyadi
Abyadi juga menilai saat terjadi persoalan ini, Disdik tidak tanggap. Buktinya saat orang tua siswa mendatangi Disdik, dia hanya melihat 2 petugas teknis yang melayani masyarakat.
“Lalu petugas teknis cuma sedikit yang kita lihat cuma 2 orang, dia tidak punya Id card kita tidak tahu dia siapa. Saya kira ini sangat penting, ini jadi catatan kami tadi. Ini sudah menyebabkan kerugian jadi saya harap diperpanjang pendaftarannya,” ujar Abyadi/
Abyadi memandang persoalan ini murni ketidaksempurnaan aplikasi. Pembuatannya terkesan asal-asalan. Ia meminta vendor penyedia aplikasi PPDB ini bertanggung jawab.
“Jadi menurut saya enggak perlu (pembelaan) kalau aplikasi enggak baik, bilang aja enggak baik, kita perbaiki selesai, sebenarnya. Jangan lari ke mana-mana,” ujar Abyadi.
Merry Ginting, salah satu orang tua tua siswa membenarkan apa yang disampaikan Abyadi. Dia mengeluhkan tidak sinkronnya data yang diinput saat pendaftaran.
"Anak saya (mendaftar) dari jalur prestasi. Ternyata setelah saya print bukti registrasi yang keluar itu jalur afirmasi. Kan itu enggak nyambung," ujar Merry.
Ketidaksinkronan juga terjadi saat anaknya memilih sekolah. Sang anak memilih SMA 1 Medan namun di aplikasi yang keluar justru SMA N 2 Medan.
“Sampai 10 kali kita ulangi terus. Didata semua historisnya, clear masih tetap sama," ungkapnya.
Terkait keluhan masyarakat, Sekretaris PPDB Sumut, Suhendri, menyebut ada beberapa faktor dari persoalan ini. Salah satunya karena tidak semua masyarakat familiar terhadap sistem pendaftaran yang dibuat Disdik.
"Ada masyarakat karena, dia tidak tahu aplikasi, karena masyarakat hari ini belum familiar terhadap perangkat. Tidak serta merta kesalahannya yang sama," ujar Suhendri.
Lalu kata dia kesalahan juga dilakukan pengguna aplikasi atau calon peserta didik saat proses pendaftaran.
"Kebanyakan ada yang memakai handphone, kemudian cache, historis yang ada di handphone itu tidak dihapus. Sehingga teman-teman, bapak ibu masyarakat mengalami kendala di situ, itu saja sebenarnya," jelasnya.
Suhendri juga menegaskan form pemilihan sekolah para siswa sudah sesuai dengan aplikasi. Bila ada yang masalah, kata dia, berarti proses registrasinya yang bermasalah bukan aplikasinya.
“Artinya kalau misalnya ada yang kemudian muncul tidak sesuai dengan pilihan atau salah atau tidak kelihatan karena sistem registrasinya belum lengkap belum sempurna,” ujarnya.
Suhendri juga mengatakan, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam pendaftaran.
"Tadi ada beberapa yang sudah kita lakukan edukasi dan coba membantu Alhamdulillah sudah clear. Hari ini penanganan masih ada di sini (Disdik Sumut). Kalau di cabang dinas sudah ada penanganan di cabang dinas, sehingga kita berbagi,’’ ujar Suhendri.
