Otak Pembunuhan Sugianto Coba Kelabui Polisi dengan Kesurupan Roh Korban

Ada peristiwa unik yang terjadi dalam penyelidikan kasus pembunuhan pengusaha pelayaran Sugianto. Otak pembunuhan, Nur Luthfiah, sempat berpura-pura kemasukan roh korban dan menyampaikan motif dari pembunuhan itu.
Kasatreskrim Polres Jakarta Utara Kompol Wirdhanto Hadicaksono mengatakan kejadian itu dilakukan Nur saat diperiksa oleh penyidik. Dalam kondisi itu Nur mengatakan korban dibunuh karena satu motif.
"Iya saat lagi diperiksa, pada saat dilakukan bersama-sama melakukan penyelidikan pihak kepolisian yang bersangkutan (Nur) sempat kesurupan dan kemudian menyampaikan bahwa ini arwah korban dan ini menyampaikan bahwa adalah masalah persaingan bisnis. Dan itu diulangi lagi pada saat pemakaman," kata Wirdhanto kepada wartawan, Selasa (25/8).
Polisi tentu tidak percaya begitu saja. Tingkah Nur itu justru membuat polisi semakin mencurigainya. Ditambah pernyataannya yang kerap berubah-ubah kepada penyidik.
"Dari situ kami melakukan tes poligraf juga ternyata hasilnya bahwa ada semacam kebohongan dari hasil ahli poligraf," kata Wirdhanto.
Poligraf adalah alat untuk uji kebohongan. Alat ini digunakan dengan sistem gelombang. Jika berbohong gelombang yang ditunjukkan alat ini akan bergetar cepat.
Polisi memastikan adegan kesurupan itu hanyalah usaha Nur untuk menutupi perbuatannya. Karena pada akhirnya ia dan komplotannya menjadi tersangka pembunuhan itu.
"Yang jelas ketika faktanya akhirnya terungkap bahwa ternyata penyampaian pada saat kesurupan tidak benar, berarti patut diduga bohong," kata Wirdhanto.
Sugianto ditembak oleh tersangka Dikky Mahfud pada 13 Agustus 2020 di depan kantornya wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pelaku penembakan itu ialah orang suruhan Nur.
Pembunuhan itu bermotif sakit hati karena Nur yang merupakan karyawati Sugianto yang kerap dilecehkan oleh bosnya tersebut.
Selain itu Nur juga merasa takut karena Sugianto mengancam akan melaporkan Nur ke polisi karena diduga menggelapkan uang pajak kantor.
