Paduan Pendidikan Islam dan Wawasan Global Ciptakan Generasi Hebat

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mumtaza Islamic School di IIEE 2017. (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Mumtaza Islamic School di IIEE 2017. (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan)

Era globalisasi mendorong banyak negara harus menyiapkan generasi penerus yang bisa mengikuti perkembangan zaman. Sebagai negara mayoritas muslim terbesar, Indonesia pun dituntut untuk siap dalam menghadapi tantangan global tersebut.

Banyak pihak menilai pendidikan yang memadukan antara ajaran keislaman dengan wawasan global dapat menciptakan generasi yang hebat.

“Kita mengusung sekolah yang agak sedikit berbeda karena mengombinasikan berbagai kurikulum ini yang menjadi keunggulan bagi kita,” ungkap Kepala Sekolah Mumtaza Islamic School, Khalimi, kepada kumparan (kumparan.com) di International Islamic Education Expo (IIEE) 2017, di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (23/11).

Mumtaza Islamic School dalam menjalankan kegiatan belajar dan mengajarnya berusaha memadukan berbagai kurikulum mulai dari kurikulum internasional Cambridge, kurikulum agama, dan kurikulum tahfidz (menghafal Al-Qur’an).

Khalami menjelaskan alasan pihaknya memadukan kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum internasional karena sistem pendidikan tersebut dapat menciptakan generasi yang berwawasan global, namun tetap bepedoman dengan ajaran keislaman.

“Menggabungkan kurikulum yang kita angkat ini bertujuan untuk membentuk karakter keislaman dan wawasan global yang kita tanamkan di anak-anak, yang kedepannya bisa menciptakan generasi yang dapat menjadi leader tetapi mempunyai Islamic value yang kuat,” jelas Khalimi.

Lebih lanjut, Khalimi mengatakan pendidikan Islam di Indonesia selama ini selalu mengajarkan pada nilai-nilai toleransi dan demokrasi. Mengingat permasalahan masyarakat saat ini tak terlepas dari adanya konflik perbedaan.

“Konsep Keislaman kita adalah Islam moderat, keislaman yang toleransi dan demokrasinha sangat lebar tetapi dengan adanya batasan-batasan,” ujar Khalimi.

Kendati demikian, Khalimi meyebut pendidikan Islam di Indonesia harus bisa mengikuti perkembangan zaman dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, ini adalah upaya untuk menciptakan wawasan bangsa yang memiliki nilai-nilai keislaman yang kuat, namun juga berwawasan global.

“Kita ingin menunjukkan islam itu bisa berkembang bisa berdampingan dengan siapa saja dan kita ingin membuka wawasan melalui karakter keislaman kita yang kuat, namun karakter global kita juga kuat,” terang Khalimi.

Khalimi juga menjelaskan melalui acara IIEE 2017 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, bentuk pendidikan Islam di Indonesia yang moderat dapat semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia maupun internasional. “Pendidikan Islam kita menunjukkan Islam Indonesia untuk perdamaian dunia. Islam mendunia-dunia damai,” pungkas Khalimi

Acara IIEE 2017 diadakan selama empat hari mulai tanggal 21-24 November 2017. Dalam acara ini terdapat sejumlah rangkaian kegiatan mulai dari seminar islam internasional atau Anual Islamic Conference International Studies (AICIS) yang dihadiri oleh pembicara dari dalam negeri dan luar negeri, pameran pendidikan Islam, perlombaan robotik tingkat madrasah, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Anugrah Guru Madrasah Berpestasi (Gupres), dan berbagai kegiatan hiburan dari para peserta pameran.