Pandemi COVID-19 Picu Melonjaknya Angka Bunuh Diri Anak di Jepang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi sekolah di Jepang. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sekolah di Jepang. Foto: Shutter Stock

Tingkat bunuh diri pada anak di Jepang menyentuh level tertinggi dalam empat dekade. Pandemi COVID-19 jadi faktor utama melonjaknya hal tersebut.

COVID-19 yang terjadi di seluruh dunia termasuk di Jepang mengganggu sistem belajar mengajar di sekolah. Akibatnya, sekolah di Jepang terpaksa tutup sampai batas waktu tidak ditentukan.

Menurut survei dari Kementerian Pendidikan Jepang, selama pandemi COVID-19 di 2021 ada 415 anak yang mati bunuh diri. Jumlah itu merupakan total kematian dari tingkat SD sampai SMA.

Ilustrasi anak sekolah di Jepang Foto: AFP/Martin Bureau

Angka tersebut melonjak sampai 100 jiwa dibanding tahun sebelumnya. Jumlah itu juga yang tertinggi sejak angka bunuh diri dihitung pertama kali pada 1974.

Bunuh diri memiliki sejarah panjang di Jepang. Tindakan tersebut ramai dilakukan untuk mencegah malu atau cercaan atas kesalahan fatal semasa hidup.

Tingginya angka bunuh diri pada anak dan orang dewasa sudah menjadi perhatian utama di Jepang. Upaya nasional yang dilakukan berhasil membuat angka bunuh diri selama 15 tahun belakangan turun sampai 40 persen.

Prestasi menawan itu dirusak pandemi COVID-19. Data pemerintah, wanita menjadi kelompok paling banyak bunuh diri selama pandemi COVID-19.

Dari hasil investigasi, alasan utama bunuh diri dilakukan karena masalah finansial serta emosional terkait pandemi COVID-19.

Sementara itu, untuk anak-anak di samping masalah bunuh diri, lebih dari 196 ribu siswa absen dari sekolah selama pandemi COVID-19.