Pasukan Israel Serbu Rumah Sakit Terbesar di Gaza, Picu Ketakutan Pasien & Nakes

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

Asap mengepul saat pengungsi Palestina berlindung di rumah sakit Al Shifa, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Hamas dan Israel, di Kota Gaza, 8 November 2023.  Foto: Doaa Rouqa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Asap mengepul saat pengungsi Palestina berlindung di rumah sakit Al Shifa, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Hamas dan Israel, di Kota Gaza, 8 November 2023. Foto: Doaa Rouqa/REUTERS

Militer Israel pada Rabu (15/11) dini hari telah meluncurkan serangan intensif ke rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, Al-Shifa, dalam sebuah misi untuk mendesak agar Hamas menyerah.

Israel tampak tidak menggubris seruan gencatan senjata dan kecaman yang dilayangkan berbagai pihak โ€” termasuk PBB, perihal serangan ke rumah sakit serta warga sipil.

Israel dengan berbagai dalihnya yang disokong AS, menuding rumah sakit Al-Shifa terhubung dengan markas pejuang Hamas.

Dikutip dari Channel News Asia, militer Israel Defense Forces (IDF) mengkonfirmasi peluncuran serangan ke rumah sakit yang sudah tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya sejak akhir pekan lalu itu.

"Berdasarkan informasi intelijen dan kebutuhan operasional, pasukan IDF melakukan operasi yang presisi dan terarah terhadap Hamas di area tertentu di rumah sakit Al-Shifa," bunyi pernyataan IDF.

Padahal, menurut Hamas, masih ada sekitar 650 pasien dan 5.000 hingga 7.000 warga sipil terjebak di dalam RS Al-Shifa sampai saat ini. Mereka berupaya bertahan hidup tanpa akses listrik, kekurangan makanan dan air bersih, serta tanpa bahan bakar.

Pejabat Palestina mengatakan, mereka tidak ada pilihan lain selain berlindung di sana lantaran drone dan sniper milik Israel seolah sudah siaga untuk menembak siapa pun yang keluar dari kompleks rumah sakit.

Warga Palestina mencari perlindungan setelah serangan di dekat rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada 1 November 2023. Foto: Bashar Taleb/AFP

IDF berkilah bahwa pasukannya akan berupaya untuk meluncurkan serangan 'presisi' supaya tidak ada korban sipil yang ditimbulkan.

"Pasukan IDF termasuk tim medis dan penutur bahasa Arab, yang telah menjalani pelatihan khusus untuk mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang kompleks dan sensitif ini, dengan tujuan agar tidak ada kerugian yang ditimbulkan kepada warga sipil," jelas mereka.

Sejumlah pejabat IDF meyakini bahwa Hamas menempatkan pusat komando bawah tanahnya di Al-Shifa. Di sana, menurut Israel, Hamas menyembunyikan operasi militernya dan ratusan sandera.

Juru bicara IDF, Letnan Kolonel Peter Lerner, kepada CNN menyebut kompleks RS Al-Shifa bahkan sebagai 'pusat gravitasi untuk operasi militer Hamas'. Seluruh tuduhan tersebut dibantah Hamas dan Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza yang dikuasainya.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina Munir al-Bursh mengatakan, pasukan Israel telah menyerbu bagian barat kompleks RS Al-Shifa.

"Ada ledakan besar dan debu masuk ke area tempat kami berada. Kami yakin ledakan terjadi di dalam rumah sakit," kata Al-Bursh.

Serangan ke RS Al-Shifa terjadi ketika lebih dari 11 ribu warga Palestina dipastikan tewas akibat serangan Israel โ€” 40 persen di antaranya adalah anak-anak.

Sedangkan Al-Jazeera melaporkan, seorang dokter di dalam RS Al-Shifa mengatakan serangan Israel telah memicu ketakutan di kalangan pasien, pengungsi dan petugas kesehatan di fasilitas tersebut.

Tak sedikit yang menyebut apa yang dilakukan Israel kepada warga Palestina sebagai genosida (pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras).

kumparan post embed