PDIP soal Megawati dan Paloh: Tak Ada Perkawanan Abadi di Politik

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Megawati Soekarnoputri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).
 Foto: AFP/Adek Berry
zoom-in-whitePerbesar
Megawati Soekarnoputri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019). Foto: AFP/Adek Berry

Hubungan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum NasDem Surya Paloh beberapa kali disebut renggang. Salah satu contohnya, adalah saat Megawati tak bersalaman dengan Paloh saat Pelantikan Anggota DPR/MPR/DPD beberapa waktu lalu.

Meski menyebut hubungan masih baik, PDIP menilai hubungan antarparpol tak ada yang abadi. Ketua DPP PDIP Achmad Basarah menyebut, pasca Pilpres 2019, ada parpol yang dulunya berseberangan tapi kini malah berkoalisi.

"Kalau saya melihat hubungan antarpartai politik, tentu kita harus membaca hubungan antar kepentingan. Tidak ada perkawanan yang abadi dan permusuhan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan itu sendiri," kata Basarah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (8/11).

Menurut dia, setelah Pemilu 2019 rampung, maka tak aneh jika parpol sudah bicara soal kepentingan di 2024. Dan hal ini pasti mempengaruhi hubungan antarparpol saat ini.

"Setiap parpol akan mengkalkulasi kepentingan-kepentingan politiknya pada masa-masa yang akan datang, terutama yang menyangkut persiapan pemilu 2024," tambah Wakil Ketua MPR dari Fraksi PDIP itu.

Ahmad Basarah memberikan salam saat Sidang Paripurna MPR di di Gedung Nusantara, Komplek Parlemen, Jakarta. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Ketua PA GMNI itu berpandangan, perbedaan dalam demokrasi tak perlu selalu dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat personal. Basarah menilai NasDem mungkin sedang mempersiapkan pemilu 2024, dengan cara bersafari ke parpol di luar koalisi, yakni PKS.

PDIP, kata Basarah, memahami bahwa berbagai manuver politik yang dijalankan oleh NasDem saat ini adalah hak partai besutan Surya Paloh itu.

"Itu sebagai salah satu cara untuk merencanakan strategi perjuangan mereka di masa yang akan datang. Kami dari PDIP memegang teguh etika politik bahwa kita tidak boleh memasuki yurisdiksi organisasi parpol lain," ujar Basarah.

Basarah menegaskan, hubungan parpol yang berkoalisi kemudian berpisah sesuai kepentingan merupakan suatu hal yang wajar dalam politik. Sehingga, PDIP meminta publik tak menanggapi hal tersebut dengan berlebihan.

"Jadi, antara berpisah dan bertemunya grup ring dan re-group dalam satu hubungan partai politik harus kita baca sebagai satu dinamika yang normal dalam hubungan parpol dalam menjaga kepentingan partainya masing-masing," tandas Basarah.

embed from external kumparan