Pembangunan RS Ibu Anak RI di Gaza Senilai Rp 402 M, Target 2 Tahun Jadi

14 Maret 2025 21:18 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tim gabungan dari AWG dan Maemuna Center Indonesia yang menginisiasi rencana pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak Indonesia di Gaza, Kemlu, Jakpus, Jumat (14/3). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Tim gabungan dari AWG dan Maemuna Center Indonesia yang menginisiasi rencana pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak Indonesia di Gaza, Kemlu, Jakpus, Jumat (14/3). Foto: Thomas Bosco/kumparan
ADVERTISEMENT
Indonesia akan membangun rumah sakit untuk ibu dan anak di Gaza, Palestina. Pembangunan fasilitas kesehatan itu ditaksir akan memakan biaya sebesar Rp 402 miliar dengan target pembangunan rampung dalam 2 tahun.
ADVERTISEMENT
Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG) M Anshorullah mengatakan sampai saat ini, biaya pembangunan yang berasal sepenuhnya dari penggalangan dana masyarakat, baru terkumpul sebesar Rp 201 miliar.
"Rencana kami yang terdekat untuk membuktikan keseriusan kami, kami akan segera memberangkatkan tim advance yang akan kami tugaskan untuk melakukan Kerja-kerja administrasi di sana dengan MOH, Ministry of Health di Gaza," tuturnya saat dijumpai di Kemlu, Jakpus, Jumat (14/3).
"Sekaligus melakukan ground breaking (Peletakan batu pertama) di sana dalam waktu yang secepatnya. Mudah-mudahan tidak ada halangan kami akan memberangkatkan di awal bulan syawal, setelah Lebaran."
Namun target bisa tercapai bila suasana di Gaza juga terkendali. Tidak ada bombardir serangan dari Israel.
"Kalau dalam waktu normal sih 2 tahun ya. Betul, tapi kalau perang kita nggak tahu," ujar Riza A Chairil yang didaulat sebagai arsitek perencana utama RSIA Indonesia di lokasi.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Ketua Tim Konstruksi RSIA Eddy Wahyudi, sosok yang terlibat juga dalam pembangunan rumah sakit Indonesia lainnya yang ada Palestina, mengaku punya kiat-kiat tersendiri untuk mewujudkan pembangunan RSIA di tengah kondisi konflik yang dinamis.
Sejumlah pedagang menawarkan dagangannya kepada pembeli saat pasar Ramadan di Khan Younis, Gaza Selatan, Kamis (27/2/2025). Foto: Ramadan Abed/REUTERS
"Kita sistemnya pokoknya menyesuaikan keadaan di lapangan. Apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan. Misalkan kayak kemarin, kadang-kadang perang kita tidak berhenti. Itu kan bisa dilakukan di dalam gedung misalkan. Seperti itu. Tidak harus pelaksanaan itu menunggu sampai total berhenti perang," jelas Eddy.
Tantangan pembangunan RSIA Indonesia di Gaza
RSIA Indonesia di Gaza akan dibangun di atas 5.000 meter persegi tanah wakaf dari Kementerian Kesehatan Palestina. Bangunan ini akan berdiri setinggi 4 lantai.
Sampai saat ini, pihak AWG dan Maemuna Center sebagai organisasi inisiator pembangunan itu, mengatakan masih intens berkomunikasi dengan pihak Palestina terkait prosesnya.
ADVERTISEMENT
"Kita merencanakan 50 bed karena kita berkirakan 50 bed cukup. Tapi melalui berbagai diskusi MOH, Ministry of Health di Gaza itu meminta minimal 100 bed. Akhirnya kita menyelesaikan."
"Kita desain, kita ubah, kita kirim ke mereka. Lalu mereka revisi lagi. Jadi tek-tokannya sudah cukup banyak sehingga kita sampai pada tahap ini," terang Anshorullah.
Begitupun perihal, akses masuk ke Palestina yang masih terkendala akibat situasi politik dengan Israel. Setelah gencatan senjata pertama, Israel disebutkan masih enggan untuk melanjutkan ke tahap ke dua, sehingga akses bantuan masih sulit masuk ke Palestina yang dikepung negara agresor itu.
Telah disiapkan skema kolaborasi antara Indonesia dengan Palestina terkait tenaga kerja di sana. Yakni 25 persen dari Palestina dan 75 persen dari relawan.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut, Anshorullah mengatakan ke depannya, RSIA Indonesia di Gaza akan dikelola sepenuhnya oleh pemerintah Palestina.
"Jangka panjangnya kita akan secara resmi, kita akan melimpahkan ke kementerian setempat, ke penjabat setempat. Jadi kami support-nya enggak seperti awal lagi. Otoritasnya akan dipegang oleh pejabat setempat," kata Anshorullah.