Pemerintah Diminta Percepat Vaksin Merah Putih untuk Penuhi Stok Nasional

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota Komisi IX DPR (PKS), Kurniasih Mufidayati. Foto: Dok. Pribadi/Kurniasih Mufidayati
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Komisi IX DPR (PKS), Kurniasih Mufidayati. Foto: Dok. Pribadi/Kurniasih Mufidayati

Anggota Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati mendorong pemerintah mempercepat pengadaan vaksin Merah Putih untuk memenuhi kebutuhan vaksinasi corona nasional.

Politikus PKS ini menyebut antusiasme vaksinasi nasional yang tinggi sayangnya belum diimbangi dengan stok vaksin yang tersedia.

"Setelah gelombang tinggi bulan Juli ini masyarakat menunjukkan antusiasme untuk mendapatkan vaksin hingga antre, tapi jumlah vaksin tidak sebanding. Laporan WHO juga menunjukkan ada ketimpangan vaksin antara Jawa dan luar Jawa. Laporan tersebut menyebut bahkan nakes di luar Jawa ada yang belum dapat vaksin," ujar Mufida dalam keterangannya, Kamis (5/8).

Sebab, apabila mengandalkan stok vaksin dari luar negeri, Mufida khawatir suplainya masih terbatas. Ia berharap pemerintah bisa fokus mengembangkan vaksin Merah Putih buatan peneliti dalam negeri, ketimbang terus mendatangkan vaksin dari luar negeri.

kumparan post embed

"Dalam upaya mengejar vaksinasi nasional akhir-akhir ini tidak disebut soal vaksin Merah Putih. Di tengah keterbatasan stok vaksin, harus terus kita dorong vaksin Merah Putih. Sebab, tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tapi juga kedaulatan bahkan juga soal ekonomi, geopolitik dan sebagainya," jelas Mufida.

Ia mengingatkan saat ini proses penelitian produksi vaksin Merah Putih baru memasuki tahap praklinis. Sehingga, ia meminta pemerintah menggencarkan daya dukung demi kelancaran tahap-tahap pengembangan selanjutnya.

"Masih ada tahap praklinis lalu uji klinis tahap satu, dua, dan tiga termasuk nanti penilaian dari BPOM. Sejak awal kami di DPR mendukung penuh penelitian vaksin Merah Putih dan menegaskan dukungan apa pun bisa kita dorong terpenuhi," kata Mufida.

Sepakat Vaksin Booster untuk Masyarakat Umum Belum Diperlukan

Di sisi lain, baru-baru ini Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, meminta negara-negara di dunia menangguhkan pemberian vaksin corona dosis ketiga hingga akhir September 2021.

Hal ini karena semakin terlihat kesenjangan vaksinasi antara negara berpendapatan tinggi dengan negara berpendapatan rendah.

Menanggapi pernyataan Dirjen WHO, Mufida sepakat booster vaksin bagi masyarakat umum saat ini belum diperlukan. Sebab, saat ini yang menerima dosis ketiga vaksin corona hanyalah kelompok nakes.

Akan tetapi, apabila nantinya diperlukan, ia berpendapat vaksin Merah Putih juga bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan booster vaksin.

“Terlebih di tengah laporan perlunya suntikan booster setelah enam bulan dari suntikan pertama, karena efikasi vaksin akan menurun untuk vaksin Sinovac. Studi juga menyebut antibodi dari vaksin Pfizer dan AstraZeneca akan menurun dalam 10 pekan. Artinya, ketersediaan stok dan proses vaksinasi berkejaran dengan waktu,” ungkap Mufida.

"Sebab itu, keberadaan vaksin Merah Putih amat penting untuk menjaga pasokan vaksin. Selain itu guna mencegah masyarakat mencari alternatif di luar yang belum tentu ada dalam pengawasan BPOM," tutup Mufida.

Ketua ITAGI Prof. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, sebelumnya mengungkapkan hanya 2 dari 7 lembaga yang mengembangkan vaksin Merah Putih yang penelitiannya berjalan lancar. Keduanya adalah Lembaga Eijkman dan Universitas Airlangga.

"Dua yang kelihatan selesai ini Eijkman dan Unair. Dua itu yang kelihatannya sudah selesai di prekliniknya jadi akan disampaikan untuk uji klinik gitu. Kalau Eijkman kan uji kliniknya nanti di Bio Farma, kalau Unair itu kayaknya ada satu perusahaan lagi saya enggak ingat namanya tapi bukan Bio Farma," ungkap Sri, Kamis (22/7).

Vaksin ini diharapkan bisa menjadi andalan Indonesia di tahun 2022. Sebab, pandemi belum ada yang bisa memprediksi kapan berakhir.