Pemimpin Taliban Sebut Tak Akan Masukkan Perempuan ke Kabinet Baru Afghanistan
·waktu baca 2 menit

Spekulasi mengenai bentuk pemerintahan Afghanistan di bawah Taliban dan siapa saja yang akan duduk di kabinet terus mengemuka.
Kepada dunia internasional, Taliban berkomitmen membuat pemerintahan yang inklusif atau merangkul semua golongan. Kelompok itu turut berjanji akan menghormati hak perempuan.
Kedua hal tersebut, penghormatan hak perempuan serta pemerintahan inklusif, tidak dilakukan saat Taliban berkuasa di Afghanistan pada 1996 sampai 2001.
Jelang pembentukan pemerintahan baru, seorang petinggi senior Taliban, Sher Mohammad Abbas Stanikzai, menyampaikan pernyataan kontroversial. Stanikzai dikenal sebagai sosok garis keras di Taliban.
Dalam wawancara dengan media BBC, Stanikzai menyebut perempuan tak akan diikutsertakan pada pemerintahan baru Afghanistan di bawah Taliban.
"Perempuan bisa terus bekerja, tapi mereka mungkin tak akan mendapat tempat di kabinet maupun pemerintahan di masa depan serta beberapa jabatan penting lain," kata Stanikzai seperti dikutip dari AFP.
Tak lama usai pernyataan itu tersiar, sebanyak 50-an wanita di kota Herat, Afghanistan, turun ke jalan. Mereka menggelar protes atas kecilnya partisipasi perempuan di pemerintahan serta hak bekerja.
"Hak kami mendapat pendidikan, pekerjaan, dan keamanan!" teriak puluhan demonstran tersebut.
"Kami tidak takut dan kami bersatu!" sambung mereka.
Herat dikenal sebagai kota kosmopolitan jalur sutera yang berbatasan dengan Iran. Kota ini salah satu paling makmur dan moderat di Afghanistan.
Menurut salah satu penggagas demo, Basira Tehari, mereka akan terus turun ke jalan menuntut dimasukkannya perempuan ke kabinet baru Afghanistan.
"Kami mau Taliban berkonsultasi dengan kami. Kami belum melihat adanya perempuan pada pertemuan mereka," ucap dia.
