Pemkot Yogya Minta Remaja Tak Perang Sarung saat Ramadhan, Fokus Ibadah

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perang sarung.  Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perang sarung. Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan

Pemerintah Kota Yogyakarta (Pemkot Yogya) meminta remaja tak menggelar perang sarung selama bulan Ramadhan. Selain itu, potensi kejahatan jalan juga selalu diantisipasi.

"Iya, jelas. Kami sampaikan untuk tidak dilakukanlah (perang sarung)," kata Pj Wali Kota Yogyakarta, Sumadi, kepada wartawan, Kamis (23/3).

Sumadi menjelaskan tak hanya pada bulan puasa saja imbauan ini berlaku. Pada saat hari-hari biasa pihaknya juga selalu meminta masyarakat untuk menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan keonaran.

"Tidak hanya bulan puasa, bulan-bulan yang lain pun kami mengimbau kepada masyarakat untuk menjauhi provokasi dari hal-hal seperti itu," jelasnya.

Remaja dan anak-anak diminta untuk lebih banyak berkumpul bersama keluarga dan beribadah bersama selama bulan suci ini.

"Kami regulasinya juga sudah untuk anak-anak untuk Perwal [Peraturan Wali Kota] jam malam. Apalagi nuansanya saat ini bulan Ramadhan tho, untuk mereka dengan keluarganya berkumpul dengan ibadahnya," katanya.

Perang sarung adalah fenomena tawuran di bulan puasa yang marak belakangan ini. Biasanya sarung itu diisi batu.

Polisi Tingkatan Patroli

Sementara itu, Polresta Yogyakarta akan selalu meningkatkan kegiatan kepolisian untuk mencegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Kita sudah membuat perencanaan terkait kegiatan antisipasi itu, ya, nanti kita akan melaksanakan kegiatan patroli di saat jam rawan mungkin saat habis tarawih atau menjelang sahur. Kemudian kegiatan razia akan ditingkatkan di jam rawan, kemudian di lokasi yang rawan kejahatan jalanan itu akan kita konsen sekali untuk mengantisipasi hal tersebut," kata Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Saiful Anwar beberapa waktu yang lalu.

Saiful mengatakan untuk kegiatan sahur on the road tidak dilarang, akan tetapi jangan sampai melanggar keamanan dan ketertiban. Semua pihak termasuk masyarakat juga harus menjaga Kota Yogyakarta.

"Yogya itu Kota Pariwisata, Kota Pelajar, Kota Budaya, kita menjaga itu dengan harapan para wisatawan tetap datang ke Yogya dan ini tentunya akan berdampak positif pada pertumbuhan maupun perekonomian Yogyakarta," pungkasnya.

kumparan post embed