News
·
19 April 2020 12:02

Pemkot Yogya soal Pembubaran #RakyatBantuRakyat: Mereka Tak Pakai Masker

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Pemkot Yogya soal Pembubaran #RakyatBantuRakyat: Mereka Tak Pakai Masker (175428)
WALHI Yogyakarta saat mengadakan pertemuan untuk membahas evaluasi pembagian pangan dan masker. Foto: Dok. WALHI
Rapat pembagian pangan dan masker bertajuk #RakyatBantuRakyat yang digelar di kantor Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta di Kotagede, Kota Yogyakarta dibubarkan pada Sabtu (18/4), malam.
ADVERTISEMENT
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, ikut menanggapi insiden itu. Heroe menjelaskan, ketika itu masyarakat cemas karena kantor WALHI selama beberapa hari ke belakang terus menggelar rapat. Ketua RT setempat lantas mendatangi kantor WALHI.
"Di lokasi itu ternyata rapat melibatkan orang dari luar, padahal saat ini semua orang tengah menjaga diri untuk tidak berkerumun dan berkumpul sesuai protokol pencegahan corona," kata Heroe dikonfirmasi kumparan, Minggu (19/4).
Protokol yang dimaksud Heroe merujuk pada Surat Edaran Wali Kota Yogyakarta Nomor 440/820/SE/2020 tentang pencegahan virus corona. Dalam poin ketiga masyarakat diimbau membatasi kegiatan bersifat massal.
"Saat ini semua menjaga protokol corona. Satu mengurangi pertemuan, rapat, arisan, pengajian dan kumpulan RT saja semua ditunda dan dialihkan melalui grup WA kampung. Kedua, melibatkan orang luar. Kita tahu semua, warga yang datang dari luar saja diminta lapor, periksa dan isolasi diri tidak ke mana-mana," ujar dia.
Pemkot Yogya soal Pembubaran #RakyatBantuRakyat: Mereka Tak Pakai Masker (175429)
Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Heroe menuturkan, sejumlah kampung memang membatasi arus masuk kampung dengan memfungsikan satu atau dua jalan saja. Dengan begitu, warga diharapkan agar tetap tinggal di rumah selama pandemi corona.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, Heroe mengatakan peserta rapat di kantor WALHI juga tidak menggunakan masker.
"Sekarang sudah ada kewajiban pakai masker, tapi peserta rapat tidak pakai masker. Warga rapat untuk penyemprotan dan gotong royong untuk membantu warga sekitar yang perlu dibantu, juga tidak pakai rapat fisik tapi grup WA," ucap dia.
Menurut Heroe, hal itu membuat masyarakat sekitar resah. Terlebih ketua RT setempat mengatakan pihak WALHI tidak meminta izin termasuk melapor.
"Warga bertanya mengapa tidak dilakukan dengan rapat secara daring atau grup WA saja? Sehingga protokol corona secara umum dikerjakan. Di rumah saja, lapor periksa isolasi bagi yang dari luar, memakai masker dan lain-lain," jelas dia.
Di sisi lain, Heroe menyampaikan rasa terima kasih kepada WALHI yang sudah membuat gerakan solidaritas itu. Akan tetapi, semua pihak harus memberikan contoh kepada masyarkat terkait aturan protokol pencegahan virus corona.
ADVERTISEMENT
"Mari kita bantu dan dorong bagi masyarakat yang sudah disiplin sosial mengeluarkan protokol corona dan terus tidak bosan mengingatkan masyarakat lainnya yang belum mengindahkan dengan baik pelaksanaan protokol corona," ungkap Heroe.
"Semua tujuan yang baik, mari kita kerjakan dengan cara yang baik dan marilah kota semua saling menjaga kondisi psikologis masyarakat, menjaga kebersamaan, saling melindungi dan menyelamatkan," tutupnya.
Sebelumnya, WALHI dalam keterangannya menyebut, solidaritas #RakyatBantuRakyat yang digelar di kantor WALHI Yogyakarta pada Sabtu (19/4) pukul 19.20, dibubarkan TNI dan polisi.
-----
Simak panduan lengkap dalam menghadapi pandemi corona dalam Pusat Informasi Corona. Sebuah inisiatif yang dirancang kumparan untuk membantu masyarakat Indonesia.
----