Pemulung yang Hidup Bersama 50 Kucing di Kolong Jembatan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Ahmat dan kucing peliharaannya (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )
zoom-in-whitePerbesar
Ahmat dan kucing peliharaannya (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )

Memelihara kucing memang sesuatu yang biasa. Namun, menjadi berbeda jika jumlahnya mencapai 53 ekor. Apalagi dilakukan oleh seorang pemulung yang tinggal di kolong jembatan.

Itu lah yang dilakukan Ahmat Arifin. Dia tinggal di kolong jembatan kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Di tempat yang sebenarnya tidak layak huni itu, Ahmat dan kucing-kucingnya tinggal.

Karena tidak ada ubin untuk menutupi tanah, Ahmat menggelar bekas spanduk yang tumpuk potongan karpet sebagai alas tidur. Alas itu dia bagi ketika malam hari bersama peliharaanya.

Dari hasil memulung, laki-laki yang berusia 67 tahun ini, mendapat uang paling banyak Rp 70.000 setiap harinya. Lebih dari setengahnya, dia pakai untuk membeli makanan kucingnya.

Kucing bernama Ayu  (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )
zoom-in-whitePerbesar
Kucing bernama Ayu (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )

Meski demikian, Ahmat mengaku tidak jarang hasil memulungnya kurang untuk biaya makannya dan kucing-kucingnya. Dalam keadaan itu, Ahmat malah rela lapar ketimbang kucingnya harus bermalam tanpa isi perut. "Saya rela tidak makan daripada kucing saya tidak makan", katanya saat kumparan menemuinya, Selasa (7/3).

Selain memberi makan, karena sayangnya dengan hewan berkaki empat itu, Ahmat sampai memberikan nama untuk 53 kucing dan satu anjingnya. "Saya hafal semuanya" sebutnya. Nama yang diberikan kepada kucingnya terdengar lucu seperti bara, bere, kunyuk, dan asem.

Binatang yang sudah dia rawat bertahun-tahun itu pun tampak patuh. Mereka tampak langsung menghampiri Ahmat ketika dipanggil.

Peliharaan yang berjumlah puluhan itu, diakui Ahmat tidak datang sendiri. "Ini mayoritas kucing sakit atau kucing kelaparan di jalan. Saya sehari-hari mulung, saya peduli aja karena saya penyayang binatang. Mereka perlu hidup dan kasih sayang cuma orang-orang yang tidak mau tau. Kalo (kucing-kucing ini) bisa bicara, dia akan bicara, 'tolonglah aku sayangilah aku'," tuturnya.

Kucing di pemukiman pemulung  (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )
zoom-in-whitePerbesar
Kucing di pemukiman pemulung (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )

Jika ada kucing yang sakit, dia mengobati secara sederhana, ia menyerahkan kesembuhannya kepada Tuhan. "Yang sakit obatnya manual, misalnya beli obat. Kita berserah diri kepada Tuhan," ungkap pria yang memakai topi ini.

Walau telah disayangi seperti anak sendiri, tapi kucing-kucing ini tidak jarang membawa masalah untuk Ahmat. Ketika mereka buang air sembarangan dan mengambil ikan milik orang lain. Tanpa banyak mengeluh, biasanya Ahmat langsung membersihkan kotoran kucingnya dan mengganti ikan yang diambil.

Namun, masalah itu dianggap tidak ada artinya dengan kesenangan yang timbul jika melihat kucingnya sehat. "Wah, itu nilainya tidak bisa dibeli dengan uang. Saya senang memelihara mereka layak hidup. Kalo tidur saya elus-elus. Itu nilainya tinggi buat saya", ujarnya sambil mengajak main kucingnya.

video youtube embed

Ahmat dan kucing peliharaannya  (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )
zoom-in-whitePerbesar
Ahmat dan kucing peliharaannya (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )

Kunyuk sedang menyusui  (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )
zoom-in-whitePerbesar
Kunyuk sedang menyusui (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan )