Penamaan Varian Virus Corona Pakai Huruf Yunani Hilangkan Stigma Negara Asal
·waktu baca 1 menit

Virus corona atau SARS-CoV-2 sudah bermutasi dan memiliki berbagai varian baru yang muncul dari sejumlah negara seperti B1617 dari India, B1315 dari Afrika Selatan, dan B1117 dari Inggris. Namun, penamaan tersebut dianggap sulit dan menimbulkan stigma pada negara asal, sehingga diganti dengan alfabet Yunani.
Ahli Biomolekuler dari Universitas Adelaide, Dr. Ines Atmosukarto, menjelaskan tujuan dari penamaan varian baru virus corona untuk mempermudah masyarakat membicarakannya tanpa harus mengaitkannya dengan suatu negara. Dengan menghilangkan penggunaan nama negara, diharapkan juga menghilangkan stigma pada negara tersebut.
"Padahal mereka sudah bagus-bagus melakukan Whole Genome Sequences dan menemukan adanya varian. Penamanaan pakai huruf alfabet Yunani diharapkan menghapus penggunaaan nama UK variants, Indian variants, atau South African variant,” jelas Dr. Ines dalam wawancara, Selasa (1/06).
Menurut Dr. Ines, hal ini merupakan langkah yang baik agar tidak mengulang pandemi terdahulu yang fokus pada nama negara.
"Ini juga belajar dari sejarah pandemi sebelumnya yang sampai sekarang ada istilah Spanish Flu dan Hongkong Flu," pungkasnya.
WHO dalam sebuah pertemuan pada Senin (31/5) mengumumkan penggunaan alfabet Yunani untuk merujuk varian dari SARS-CoV-2.
Pemberian nama dilakukan secara alfabetik sesuai urutan pertama ditemukan. Seperti Alpha untuk varian dari Inggris, Beta untuk varian dari Afrika Selatan, dan Gamma untuk varian dari Brasil.
