Penelitian Vaksin Nusantara Terawan Dihentikan Sementara

Penelitian soal vaksin Nusantara gagasan eks Menkes Terawan Agus Putranto dihentikan sementara. Hal itu diungkap oleh ahli wabah UI Pandu Riono.
Pandu mengatakan, informasi itu didapat dari surat yang disampaikan peneliti vaksin Nusantara dari RSUP Dr Kariadi ke Menkes Budi Gunadi Sadikin.
"Menindaklanjuti laporan singkat Rapat Kerja Komisi IX DPR yang membahas mengenai penjelasan tentang dukungan Pemerintah terhadap Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara tanggal 10 Maret 2021 yang dihadiri Wamenkes, Menristek/Kepala BRIN, Kepala BPOM, Direktur LBM, Tim Peneliti RSUP Dr Kariadi dan lain-lain, dengan ini kami sampaikan bahwa sebagai site research mohon izin untuk menghentikan sementara penelitian ini," demikian bunyi surat tersebut dikutip kumparan, Senin (22/3).
"Oleh karena kelengkapan dan persiapan persyaratan yang harus dipenuhi dalam penelitian vaksin dendritik belum mendapatkan izin PPUK fase II dari BPOM," lanjut surat yang diteken Plt Dirut RUSP Dr Kariadi Semarang, Dr dr Dodik Tugasworo Pramukarso, tersebut.
Dalam rapat kerja 10 Maret 2021, BPOM telah mengungkapkan sejumlah kejanggalan dari report uji klinis I vaksin Nusantara. Dari data yang berbeda hingga proses tak sesuai standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Oleh karena itu BPOM memang belum mengizinkan penelitian ini lanjut ke tahap uji klinis II.
"Itu kan maunya RS Kariadi. Dia sudah tahu banyak yang enggak bener. Kelihatannya sudah tahu BPOM juga tak akan memperpanjang. Yang melakukan penelitian bukan Kariadi aja. Banyak orang asing, ada 8 orang atau berapa itu. Yang kerja peneliti dari AS, termasuk AIVITA," kata Pandu kepada kumparan.
Lantas mengapa baru sekarang peneliti RS Kariadi menghentikan sementara penelitian?
"Mereka kan takut sama Menkes, siapa yang berani? Wong rumah sakit di bawah Kemenkes. Menurut saya Kariadi udah luar biasa berani," tegas Pandu.
AIVITA Biomedical Inc adalah perusahaan farmasi yang berbasis di Irvine, California, AS. Perusahaan ini memproduksi obat kanker berbasis sel dendritik. Perusahaan lalu mengincar Indonesia untuk menggarap vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik.
Selain AIVITA, pihak yang terlibat dalam riset dan pengembangan calon vaksin yang kemudian diberi nama vaksin Nusantara ini adalah Balitbangkes, Undip, dan RSUP Dr Kariadi, serta perusahaan farmasi PT Rama Emerald Multi Sukses atau Rama Pharma yang berbasis di Gresik.
Pada 22 Oktober 2020, Terawan yang saat itu menjabat Menkes menyaksikan penandatanganan kerja sama uji klinik kandidat vaksin tersebut.
Siaran Pers AIVITA
AIVITA Biomedical mengumumkan laporan penyelesaian uji klinis tahap I kandidat vaksin corona, AV-COVID-19, di Indonesia dalam siaran pers pada Kamis (25/2/2021). Laporan itu dimuat di websitenya. AV-COVID-19 ini di Indonesia dikenal dengan nama vaksin Nusantara.
Dalam laporannya, disebutkan 27 relawan yang mengikuti uji klinis menunjukkan hasil pengobatan yang ditoleransi dengan baik, tidak mengalami efek samping serius, dan individu dapat menghasilkan antibodi.
Setelah ini, AIVITA tengah berdiskusi dengan otoritas regulasi setempat untuk mengadakan uji klinis fase II di Indonesia. Serta, melakukan proses investigasi klinis AV-COVID-19 di Amerika Serikat pada awal 2021.
"Kami terus melihat kebutuhan global yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk [pembuatan] vaksin pencegahan yang dapat cepat diskalakan, dan diadaptasi untuk memberikan perlindungan terhadap semua varian virus COVID-19," kata Kepala Eksekutif AIVITA, Hans Keirstead.
Ia menyampaikan, vaksin corona yang dipersonalisasi jadi AV-COVID-19 ini menggunakan platform terapi sel autologus AIVITA. Platform ini sebelumnya telah terbukti aman dan efektif untuk program vaksin terapeutik bagi penderita kanker.
***
Saksikan video menarik di bawah ini:
