Pengakuan DKM Masjid Al Falaah soal Penyekapan Ninoy Karundeng

kumparanNEWSverified-green

Arif Anggota DKM Masjid Al-Falaah Pejompongan, Jakarta Pusat. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Arif Anggota DKM Masjid Al-Falaah Pejompongan, Jakarta Pusat. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Relawan Jokowi, Ninoy Karundeng, mengaku dianiaya oleh sejumlah orang saat mengambil gambar pengunjuk rasa di Pejompongan, Jakarta Pusat, Senin (30/9) lalu. Saat itu, tiba-tiba ada oknum massa yang menghampiri dan merampas ponselnya.

Tak hanya itu, Ninoy juga dibawa ke Masjid Al-Falaah, Pejompongan. Di sana, menurut Ninoy, ia diinterogasi, dianiaya, hingga diancam akan dibunuh.

Hingga saat ini, polisi sudah menetapkan 11 orang tersangka. Polisi juga akan memeriksa sejumlah orang termasuk Sekretaris FPI Munarman.

Polisi menduga ada keterlibatan Munarman dalam insiden tersebut. Menurut polisi, Munarman sempat meminta tersangka S untuk menghapus rekaman CCTV di masjid.

embed from external kumparan

Berikut kutipan pernyataan Arif, salah satu anggota Dewan Keamanan Masjid Al-Falaah Pejompongan yang diduga menjadi lokasi pengeroyokan Ninoy Karundeng:

Masjid ini tidak tahu kalo ada begitu banyak massa yang datang ke sini. Terus pada waktu jam setengah enam itu, sudah ada yang sakit, katakanlah kena gas air mata, sehingga kita bawa ke masjid, kita hanya kasih cuci muka. Kemudian, ada yang kita kasih oksigen yang botol kecil itu, karena kita enggak tahu bagaimana menanganinya.

Setelah itu, ada sebagian orang mendatangkan tim medis, itu setengah enam sore, korbannya baru ada sekitar lima. Baru jam enam sore, korban semakin banyak. Terus itu meningkat sampai jam tujuh, delapan, sembilan, korban datang ke sini.

Akhirnya di sini enggak muat, kita taruh di dalam masjid enggak muat, akhirnya kita taruh di luar. Saya bagian gelar karpet. Kemudian, di luar sana, di jalan, ada tiga karpet yang kita gelar. Satu karpet muat dua puluh orang.

Kita tidak mengenal siapa itu korbannya. Kemudian mereka kita perlakukan menolong, P3K lah, kemudian setelah itu, yang sudah enakan sedikit kita suruh keluar. Gantian lagi sama yang di luar.

Nah, saya tidak tahu ada salah satu di antara mereka ada yang bernama Ninoy, yang kemudian masih ada di dalam. Kemudian dia pulang pagi harinya, naik GO-BOX.

Kemudian saya dengar kabar kalau dia mengatakan disekap. Makanya saya heran, kenapa ada penyekapan. Kalau ada penyekapan, kenapa cuma Ninoy? Kok yang 200 orang itu enggak lapor kalau disekap.

Saya juga bingung, kan dia bareng-bareng, kenapa cuma dia yang merasa disekap? Itu yang saya tidak ketahui. Kok ada berita penyekapan di masjid? Yang jelas di masjid tidak ada penyekapan. Masjid ini terbuka. Di ruangan itu bukan hanya dia sendiri, ada paramedis 10 orang, ada korban-korban lainnya.

Ninoy Karundeng di Polda Metro Jaya, Senin (7/10). Foto: Raga Imam/kumparan

Ninoy mengaku disiksa di luar, terus disiksa lagi waktu dibawa ke dalam masjid. Bagaimana?

Yang jadi masalah begini, DKM masjid satu orang pun tidak ada yang memukul. Ada pun pemukulan, mungkin orang yang tidak saya kenal. Karena di luar kan tahu sendiri, ada yang pro sana, pro sini.

Semuanya kita perlakukan sama. Jangan-jangan, yang mukul, apakah teman dia, lawan dia, kita enggak tahu. Makanya kita selamatkan ke dalam. Jadi kalau ada laporan seperti itu, yang mukul siapa?

Jadi kalau ada laporan seperti itu, yang mukul siapa? Saya juga tidak tahu. Di sini massa sudah banyak banget, sehingga jangan-jangan orang yang mukul yang saya tidak kenal. Kalau memang di CCTV kelihatan, ya tolong dicari yang mukul siapa. Saya rasa dari pihak luar, bukan orang masjid.

Dari Bapak, enggak lihat ada pemukulan di dalam, ya?

Saya tidak lihat, sama sekali, dalam masjid itu sudah steril hanya ada petugas medis, mengobati kasih air, begitu saja. Tidak ada pemukulan di dalam, kalau di luar ada tidak mengerti. Karena bukan hanay dia saja yang saya urusin, 200 orang.

Makanya ya itu, saya enggak mengerti kok disebutin menyekap, menculik. Bahasanya, siapa yang menculik, siapa yang menyekap? Mungkin kalau ada yang menyekap, ya kami yang menyelamatkan.

Berarti Ninoy sama yang lain bisa di dalam masjid karena dievakuasi oleh masjid atau kemauan sendiri?

Yang jelas bukan DKM, penyevakuasi kebanyakan setahu saya ojek online. Jadi sampai di sini kita tolong, sampai sini kita tolong. Masjid ini enggak muat, saya katakan 200 itu termasuk sama yang di luar.

Ada lima tempat. Kebetulan Ninoy, masuk yang di sini (di dalam masjid), di kalau yang di dalam itu ada 25-an lebih. Kalau disekap, 25 orang itu lapor juga harusnya.

Kondisi waktu Ninoy masuk kayak gimana?

Saya enggak tahu. Saya tahunya kok tiba-tiba ada di media. Saya jujur, Pak, di sini tidak ditanya kamu siapa, KTP-nya mana.

Berarti waktu Ninoy masuk keadaannya gimana?

Enggak perhatian, Mas. Yang lebih parah dari itu banyak. Ada yang bocor kepalanya, jadi saya enggak mikirin seperti itu. Pokoknya yang sakit kita tolongin, jadi enggak tahu kalau ternyata itu Ninoy. Siapa pun kita enggak ada urusan, masjid terbuka buat umat.

Justru saya heran, kok di media tiba-tiba ada penyekapan. Jangan sampai kita ada niat baik, kita tolong. Ternyata hasilnya malah tidak baik.

Besoknya pada pulang?

Pulang masing-masing, yang merasa sudah aman, pulang.

embed from external kumparan

Sterilnya kapan?

Setelah PPSU datang. Subuh belum.

Ninoy ngakunya jam 7?

Selain itu masih ada yang di belakangnya dia. Jadi dia bukan yang terakhir dan bukan yang pertama masuk sini. Pulang kemauan sendiri. Memang ada warga yang mesenin GOBOX. Saya kalau dia sudah merasa aman, mau pulang ya silakan.

Massa-nya dari mana saja?

Massa itu, pendemo yang saya katakan massa. Jadi mahasiswa, ojek online, ormas, anak STM banyak. Jadi kita enggak bisa sortir satu per satu. Kalau polisi mau real, seluruh Bendungan Hilir saat itu lumpuh. Bahkan polsek kan ada mobil yang dibakar.

CCTV disita polda?

CCTV diambil polda, langsung. Bukan malam kejadiannya, ya. Besoknya. Hari Senin kejadian, Selasa malam diambil. Karena kita nothing to loose ya. Kita serahkan saja karena enggak punya agenda apa-apa.

Update terakhir, ada tersangka namanya S, katanya sekretaris DKM? Benar?

Itu betul. Tapi tidak ada kaitannya dengan urusan masjid. Ya kalau misalnya saya, ASN terlibat narkoba, ASN-nya kebawa-bawa kan enggak mungkin. DKM betul, tapi saya enggaka tahu dia urusan apa. Kalau bicara pemukulan penyekapan dia enggak terlibat, enggak tahu dia punya masalah apa.

Ada keterkaitan Ninoy secara pribadi enggak tahu. Tapi kalau secara kelembagaan DKM. Tidak ada kaitannya.