Pengamat Ungkap Kriteria yang Cocok Pimpin NU: Paham Perubahan-Mampu Eksekusi

CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, melihat adanya perubahan besar dalam tubuh warga Nahdlatul Ulama (NU), mulai dari pertumbuhan anak muda hingga kelas menengah. Perubahan itu, menurut Hasanuddin, menuntut NU memilih pemimpin yang tak hanya memahami persoalan, tapi juga mampu menawarkan gagasan dan mengeksekusinya.
Pernyataan itu disampaikan Hasanuddin dalam agenda Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU bertajuk “Stop Politik Transaksional di Muktamar NU” di Jakarta Pusat, Selasa (18/8).
Hasanuddin mengatakan, banyak generasi muda yang menjadi NU karena warisan keluarga. Ke depan, mereka membutuhkan alasan yang lebih nyata untuk tetap menjadi bagian dari NU.
“Anak-anak muda yang kelahiran 92 sampai 2010-an itu memang menjadi NU, tapi bukan NU yang sekadar diwariskan. Mereka itu membutuhkan alasan yang lebih real kenapa saya harus menjadi NU,” terang Hasanuddin.
Menurut dia, fenomena itu banyak terjadi di masyarakat NU perkotaan.
Dia kemudian menyebut pendidikan sebagai salah satu perubahan yang perlu diperhatikan. Menurut Hasanuddin, kini semakin banyak warga NU yang tidak hanya mendapatkan pendidikan agama, tetapi juga berpendidikan tinggi.
“Dari sisi pendidikan. Banyak sekarang warga kita yang pendidikannya sudah bagus. Tidak hanya agama,” ujarnya.
Selain itu, Hasanuddin menyoroti pertumbuhan kelas menengah di kalangan warga NU. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari mobilitas vertikal yang terjadi dalam 10 tahun terakhir.
“Kemudian yang keempat yang sangat penting adalah kelas menengah. Harus disadari teman-teman sekalian, dalam 10 tahun terakhir ini terjadi mobilitas vertikal. Yang dulu kalau di muktamar yang bawa mobil sedikit, kalau sekarang bawa mobil semua. Di kalangan warga kita juga kelompok menengah semua,” tutur dia.
Selanjutnya, Hasanuddin juga mendorong NU memberikan ruang lebih luas kepada kelompok perempuan.
“Yang kelima kita berharap NU nanti hadir di kelompok-kelompok perempuan. Kita tahu kelompok perempuan ini harus dikasih ruang yang lebih luas. Jangan ditaruh di satu tempat tapi dikasih ruang yang lebih luas,” jelas Hasanuddin.
Dalam kesempatan itu, Hasanuddin pun menilai perubahan tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam memilih pemimpin NU di usianya yang sudah 2 abad. Ia bahkan mengaku pesimis karena melihat tren perkembangan Indonesia yang dinilainya berlawanan dengan basis tradisional NU.
“Saya ini agak pesimis dengan NU. Karena saya melihat tren Indonesia itu agak bertolak belakang dengan NU. NU itu kuatnya di mana? Pedesaan, menengah ke bawah, tapi tren Indonesia berlawanan dengan itu semua,” bebernya.
Karena itu, Hasanuddin berharap siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin NU dapat memahami kondisi tersebut.
“Nah saya sih berharap bahwa siapa pun ketua yang terpilih nanti itu paham akan situasi,” katanya.
Dia menjelaskan, pemimpin NU harus memahami perubahan dan memiliki kesadaran terhadap masa depan NU dan Indonesia.
“Yang pertama, dia itu orang yang paham, tidak hanya paham, tapi juga punya kesadaran, punya kegelisahan melihat masa depan NU dan Indonesia. Dengan melihat situasi kondisi, tadi kelas menengah tumbuh, anak muda tumbuh, terus kemudian perkotaan naik,” jelas Hasanuddin.
Kemudian, Hasanuddin menilai seorang pemimpin harus memiliki visi, ide, dan gagasan untuk menjawab berbagai perubahan yang dihadapi NU. Menurutnya, tradisi tetap penting, tetapi pemimpin juga perlu menawarkan gagasan yang relevan dengan kondisi NU ke depan.
“Saya tidak mengatakan bahwa tradisi itu tidak penting. Tradisi tetap penting, tradisi tetap penting, tapi jauh lebih penting adalah bahwa dia memiliki gagasan untuk menjawab perubahan-perubahan yang dihadapi oleh NU terutama,” papar dia.
Lebih jauh, menurut Hasanuddin pemimpin juga harus mampu menggerakkan sumber daya untuk menjalankan gagasan tersebut.
“Nah yang ketiga adalah dia harus mampu mengorkestrasi semua sumber daya yang diberikan. Tidak cukup dia hanya mengerti, tidak cukup dia hanya punya fisik, tapi dia juga mampu mengorkestrasi semua sumber daya dengan idenya,” papar Hasanuddin.
“Dia tidak cukup (menjadi) man of ideas, tapi dia juga harus punya yang namanya man of execution,” sambungnya.
