Pengasuh Ponpes Pati Lecehkan Santriwati: Ngaku Keturunan Nabi-Tilap Duit
·waktu baca 3 menit

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, Asyhari, ditetapkan sebagai tersangka pelecehan seksual terhadap santriwatinya. Jumlah korban diperkirakan mencapai 50 orang.
Seorang santri laki-laki Ponpes Ndholo Kusumo membeberkan tabiat tersangka. Santri bernama Sofi itu mengungkapkan masa-masa di ponpes selama satu dekade yang menurutnya penuh tekanan hingga kerugian materiil yang mencapai belasan juta rupiah.
Dalam kurun waktu 2008–2018 itu, selain menjadi santri, dia juga ikut bekerja kepada A tetapi tak pernah digaji.
"Sejak 2008 itu sambatan (kerja bakti), siang malam enggak dibayar sampai 2018. Kalau punya uang, malah saya setorkan sama dia,” kata Sofi dalam orasinya ketika unjuk rasa massa menggeruduk ponpes Ndholo Kusumo, Pati, Sabtu (2/5).
Tak hanya itu, Sofi juga diminta berbohong kepada orang tuanya bahwa dia mondok di Kabupaten Jepara. Semua uang saku dari orang tuanya juga diminta oleh pelaku.
“Tahun 2008 saya disuruh mengaku sama orang tua kalau saya mondok di Ponpes Jepara, biar uang dari orang tua saya masuk ke sini," jelasnya.
Ngaku Wali Allah Keturunan Nabi
Alasan Sofi sangat patuh karena Asyhari mengaku sebagai Wali Allah. Keyakinan itu semakin kuat setelah Sofi melihat adanya beberapa keistimewaan dalam diri Asyhari. Ia mencontohkan, Asyhari tahu ketika mbahnya akan meninggal dunia, hingga adiknya akan melahirkan.
“Saya anggap dia itu walinya Allah, dia tahu semuanya. Mbah saya akan meninggal dunia dia tahu. Adik saya mau melahirkan jam 11 malam, disuruh telepon, adik saya itu mau lahiran cowok nanti kasih nama ini, itu terjadi,” terang dia.
Dia mengatakan, banyak santriwati yang menerima pelecehan karena Asyhari mendoktrin para santriwati bahwa dia keturunan Nabi Muhammad. Akibatnya, korban tidak berani melawan.
"Doktrinnya dunia seisinya dari Nur (cahaya) Kanjeng Nabi, tapi terus ditambah orangnya sendiri, dunia seisinya halal untuk Kanjeng Nabi dan keturunan Kanjeng Nabi. Jadi misalnya istriku dikawin dia, ya halal. Itu doktrinnya,” lanjut dia.
Selama di ponpes tersebut, Sofi juga sering melihat perilaku Asyhari yang sering mencium pipi, dahi, hingga bibir santriwati sebagai sesuatu yang “biasa” terjadi. Hal tersebut juga dialami istrinya.
“Banyak hampir semuanya. Istri saya juga begitu kalau salaman, dicium pipi kanan kiri, bibir, dahi,” katanya.
Titik balik dia sadar dengan doktrin Asyhari terjadi pada 2018. Saat itu, ia langsung memutuskan untuk keluar dari ponpes tersebut. Ketika itu, sertifikat tanahnya diminta pelaku untuk utang, namun ternyata tidak dibayar.
“Saya mulai sadar setelah keluar dari tahun 2018, sertifikat rumah saya diambilkan utang tapi tidak dibayar. Saya bingung karena saya tidak kerja, bayarnya gimana. Ada yang menasihati, masa kok hidup budak terus, nggak mikir masa depan,” jelasnya.
Asyhari belum berkomentar mengenai tudingan-tudingan tersebut.
