Penjelasan Ahli ITB soal Petir di Depok Menggelegar 15 Kali Semenit
·waktu baca 3 menit

Hujan deras mengguyur wilayah Depok, Jawa Barat pada Senin (14/3) sore. Hujan kali ini bahkan diiringi rentetan suara petir yang terus menggelegar tanpa henti.
Berdasarkan pantauan kumparan di Tanah Baru, Depok, petir menyambar sekitar 15 kali dalam semenit. Temuan serupa juga terjadi di Sawangan.
Data intensitas petir harian yang dihimpun BMKG pada Senin (14/3) kemarin menunjukkan Pulau Jawa didominasi warna biru, yakni petir dengan intensitas rendah.
Sementara warna hijau muda ada pada sekitar lima titik, salah satunya di sebelah selatan hingga tenggara Jakarta. Warna tersebut menunjukkan intensitas petir yang lebih tinggi.
Terkait peristiwa ini, ahli petir dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Syarif Hidayat mengungkapkan bahwa fenomena itu sebenarnya cukup lumrah terjadi. Secara umum, dari wilayah Jakarta Selatan sampai Bogor, frekuensi petirnya memang sangat tinggi.
“Itu disebabkan oleh fenomena yang disebut orografi. Jadi di satu daerah yang ada gunung tinggi lalu di dekatnya ada teluk, itu umumnya petirnya banyak. Kenapa? Karena secara konstan setiap hari gunung itu kena sinar matahari menjadi hangat. Udara hangat naik, kekosongannya diisi oleh udara lembab dari arah teluk,” jelasnya via sambungan telepon kepada kumparan, Selasa (15/3).
Fenomena tersebut menghasilkan apa yang dalam meteorologi disebut sebagai awan kumolonimbus, yakni awan yang terjadi karena pergerakan udara vertikal. Awan ini mendominasi wilayah selatan Jakarta hingga Bogor. Oleh karena itu, daerah ini sering mengalami petir dengan frekuensi tinggi di sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun musim kemarau.
Syarif menambahkan, masyarakat tak perlu risau dengan rentetan bunyi petir saat hujan deras.
“Apakah normal dalam satu menit terjadi 15 (petir)? Ya normal saja. Karena kan tidak di satu titik, dia itu (ada) banyak awan, (sehingga) terdengar sampai 15 kali, ya, wajar saja. Tidak spesial banget,” kata dosen STEI ITB tersebut.
Soal banyaknya petir sebagai efek dari krisis iklim, ia menyebut bisa saja itu terjadi–sama seperti cuaca yang kini bisa sangat dingin atau sangat panas. Namun, hal itu masih diteliti lebih lanjut oleh para ahli.
“Pemanasan global itu ditengarai menghasilkan efek yang disebut sebagai intensifikasi cuaca. Hujannya makin deras, anginnya makin kencang, begitu, ya. Itu mungkin saja berpengaruh dalam jangka panjang terhadap perilaku petir, termasuk di daerah Bogor,” imbuh Syarif.
Hujan intensitas tinggi disertai angin kencang dan petir melanda Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, atap rumah warga beterbangan akibat angin yang sangat kencang. BMKG pun sempat mengeluarkan peringatan dini terkait hujan disertai petir disertai angin kencang berdurasi singkat di wilayah Jakarta, Depok, hingga Bekasi.
Saat ini Indonesia sedang mengalami akhir musim hujan dan segera memasuki pancaroba. Syarif mengatakan jumlah petir justru makin banyak di musim pancaroba nanti.
“Kenapa lebih banyak? Karena pada musim pancaroba, sinar matahari itu lebih banyak kena atau sampai ke puncak gunung dibandingkan pada puncak musim hujan. Pada puncak musim hujan, itu praktis awan selalu menyelimuti gunung, jadi tidak terlalu intens pemanasannya oleh matahari,” jelas Syarif.
Agar terhindar dari bahaya petir, Syarif mengingatkan untuk mengamankan diri dan tidak berada di kawasan terbuka seperti sawah, ladang, atau lapangan golf, terutama pada siang atau sore hari.
“Cari objek yang tinggi, mendekat, tapi jangan kurang dari dua meter. Kalau kurang dari 2 meter, objek tinggi itu mungkin kena petir dan kita kena imbas,” saran Syarif.
