Penjelasan Dosen Psikologi Unpad soal Cuci Otak yang Dilakukan Herry Wirawan
ยทwaktu baca 2 menit

Herry Wirawan disebut mencuci otak para santrinya yang jadi korban. Hal itu terungkap dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung beberapa waktu lalu. Lantas, apa yang dimaksud dengan pencucian otak atau brain washing dari sudut pandang psikologi?
Dosen Fakultas Psikologi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Aulia Iskandarsyah, mengatakan brain washing secara definisi merupakan rangkaian tindakan mengubah pemikiran, kepercayaan hingga perilaku seseorang agar menuruti kehendak dari perkataan seseorang.
"Brain washing itu sendiri merupakan tindakan manipulasi," kata dia melalui sambungan telepon, Sabtu (1/1).
Aulia mengatakan terdapat sejumlah bentuk tindakan brain washing. Pertama, bentuk brain washing yang dilakukan secara soft atau halus. Dia mencontohkan pemasaran yang dilakukan oleh pedagang kepada pembeli melalui iklan di media massa. Hal tersebut merupakan bentuk dari brain washing secara halus.
"Nah, kalau ada yang lebih terstruktur daripada itu biasanya bentuknya dalam bentuk kelompok kemudian kajian. Contohnya misal dalam bentuk ada pengajian tertentu sekelompok orang berkumpul, kemudian orang tersebut dicekoki untuk jihad, untuk apa dan segala rupa," ucap dia.
Ada juga brain washing dalam bentuk kasar. Brain washing bentuk ini biasanya dilakukan dengan disertai ancaman. Dia pun mencontohkan satu kasus brain washing secara kasar yang terjadi di Korea Utara semasa kepemimpinan Kim Jong Il.
"Di Korea Utara itu sendiri, kan, ada orang itu dioperasi katarak, bukan terima kasih ke dokter atau ke Tuhan tapi terima kasih ke Kim Jong Il. Jadi dia menyembah terima kasih," ucap dia.
Adapun terkait dengan kasus Herry, Aulia mengatakan pelaku melakukan brain washing secara terstruktur lewat wadah yang dinamakan pesantren. Dari sana, dia mulai melakukan manipulasi secara perlahan sehingga para santri yang jadi korban menuruti kehendaknya.
"Mungkin saja dia tanamkan dalam acaranya dia kemudian program dia bahwa menurut pada guru itu wajib kemudian melayani dan mengabdi sama guru itu wajib, nanti kamu berdosa kalau enggak nurut ke saya dan sebagainya, saya melihat memang terstruktur, ya, karena dia, kan, punya wadah," kata dia.
Tak hanya kepada santrinya, Aulia menilai brain washing yang dilakukan Herry juga kemungkinan menyasar pada istrinya. Diketahui, istri Herry disebut mengetahui perbuatan bejat yang dilakukan oleh suaminya, tapi dia tak melakukan tindakan apa pun. Istrinya pun harus diperiksa secara psikologis.
"Jadi enggak bisa ditentukan bersalah atau tidak [istrinya]. Harus ada evaluasi yang saksama dulu," pungkasnya.
