Penjelasan Kemenkes soal Hoaks Hepatitis Akut Diakibatkan Vaksinasi Corona Anak

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jubir vaksinasi perwakilan Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi.  Foto: Kemkes RI
zoom-in-whitePerbesar
Jubir vaksinasi perwakilan Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi. Foto: Kemkes RI

Munculnya kasus hepatitis akut misterius di sejumlah negara menimbulkan kekhawatiran. Bahkan, muncul hoaks bahwa kasus ini disebabkan karena vaksinasi COVID-19 yang diterima anak.

Terkait hal ini, jubir Kemenkes dr. Siti Nadia mengatakan sudah melakukan investigasi terhadap tiga kasus yang ditemukan di Indonesia. Berdasarkan investigasi yang dilakukan, kondisi yang dialami ketiga anak sudah dalam stadium lanjut, sehingga hanya ada sedikit waktu bagi rumah sakit untuk melakukan tindakan pertolongan.

"Ketiga kasus ini usianya 2 tahun, 8 tahun, dan 11 tahun. Dan 2 tahun itu belum mendapatkan vaksinasi, yang usia 8 tahun baru mendapatkan vaksinasi satu kali, dan yang 11 tahun sudah mendapatkan vaksinasi," kata dr. Siti dalam konpers soal perkembangan kasus Hepatitis, secara daring, Kamis (5/5).

"Ketiganya [hasil] COVID negatif dan kita sedang melakukan bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI melakukan investigasi kontak mengenai faktor risiko," jelasnya.

Lebih lanjut, diketahui ada salah satu pasien yang memiliki riwayat penyakit penyerta. Sehingga, diduga penyakit penyerta itu yang memicu munculnya hepatitis akut tersebut.

kumparan post embed

"Memang sampai saat ini ketiga kasus ini belum bisa kita golongkan sebagai hepatitis akut dengan gejala berat tadi, tetapi baru masuk pada kriteria yang kita sebut sebagai pending klasifikasi. Karena masih ada pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan, terutama pemeriksaan adenovirus dan pemeriksaan untuk Hepatitis E yang membutuhkan waktu antara 10-14 hari ke depan," jelasnya lagi.

Pada kesempatan yang sama, Menko PMK Muhadjir Effendy menegaskan sudah berbicara dengan Menkes Budi Gunadi Sadikin terkait isu ini. Ia meminta Menkes Budi untuk segera mengambil langkah-langkah preventif kuratif terhadap gejala hepatitis akut misterius ini, khususnya terhadap hoaks yang beredar di masyarakat.

"Ini sudah menjadi persoalan global karena sudah terjadi di beberapa negara-negara maju, dan kalau sudah terjadi di negara maju itu, ya, karena negara maju sudah memiliki instrumen yang sangat canggih untuk mendeteksi setiap penyakit-penyakit seperti ini, ya," kata Muhadjir.

Ia mengatakan, sikap pemerintah yang langsung merespons isu ini menunjukkan kemajuan dalam penanganan dan tata kelola kesehatan masyarakat nasional.

"Saya rasa kita tidak ada jeleknya kalau lebih ofensif, ya. Jadi kita tidak menunggu tapi proaktif melakukan penyisiran besar-besaran di setiap daerah itu untuk memastikan bahwa memang ini belum menyebar ke mana-mana. Kalau seandainya sudah menyebar juga bisa terdeteksi sejak dini dan segera bisa diatasi," pungkasnya.