Penjualan Pesawat Tempur ke Indonesia, Ajang Prancis Perkuat Aliansi di Asia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah jet tempur Rafale mendarat di kapal induk Prancis Charles-de-Gaulle di lepas pantai Toulon, Prancis selatan, pada 5 Juni 2021. Foto: NICOLAS TUCAT / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah jet tempur Rafale mendarat di kapal induk Prancis Charles-de-Gaulle di lepas pantai Toulon, Prancis selatan, pada 5 Juni 2021. Foto: NICOLAS TUCAT / AFP

Indonesia dan Prancis baru saja meresmikan kontrak jual beli pesawat tempur pada Kamis (10/2). RI akan memboyong 42 jet Rafale dalam kontrak senilai USD 8,1 miliar (setara dengan Rp 116,2 triliun).

Penandatanganan kontrak pembelian enam unit pertama berlangsung di Jakarta pada Kamis (10/2/2022), antara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly.

Menhan Prabowo mengatakan, proses tanda tangan pembelian 36 unit Rafale lainnya akan menyusul dalam waktu dekat.

Selain 42 jet Rafale, dua unit kapal selam Scorpene buatan Naval Group juga termasuk dalam MoU (Nota Kesepakatan) yang ditandatangani RI-Prancis. Dua kapal selam tersebut lengkap dengan suku cadang yang dibutuhkan dan juga termasuk latihan.

Signifikansi Pembelian Alutsista oleh RI bagi Prancis

Dikutip dari Reuters, Menhan Parly mengungkapkan pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) akan membawa manfaat besar bagi hubungan kedua negara. Lebih dari itu, Prancis bertujuan memperkuat aliansi dengan negara di Asia.

Menhan Prabowo Subianto, menerima kunjungan kehormatan Menhan Prancis, Florence Parly di Jakarta, Kamis (10/2). Foto: Biro Humas Setjen Kemhan

“Kemitraan strategis kami akan memperoleh keuntungan dan manfaat dari semakin eratnya hubungan pertahanan kami,” ujar Parly pada Kamis (10/2).

Dalam cuitan di Twitter, baik Presiden Emmanuel Macron maupun Menhan Parly mengungkapkan kegembiraan atas pembelian 42 jet Rafale oleh Indonesia.

“Prancis bangga dapat berkontribusi dalam modernisasi pasukan bersenjata dari mitra kami [Indonesia], yang memainkan peran penting di dalam ASEAN dan dalam kawasan Indo-Pasifik,” tulis Parly.

X post embed

Sementara perusahaan yang memproduksi jet tempur Rafale, Dassault Aviation, mengatakan perjanjian ini menjadi awal dari kemitraan jangka panjang dan meningkatkan presensi (kehadiran) mereka di Indonesia.

“Ini juga mendemonstrasikan hubungan kuat antara Indonesia dan Prancis, serta memperkuat posisi negara kepulauan terbesar dunia [Indonesia] sebagai kekuatan kunci di panggung internasional,” ujar CEO Dassault Aviation, Eric Trappier, sebagaimana dikutip dari AFP.

Pesawat tempur multirole Dassault Rafale Angkatan Udara Prancis (Armee de l'air) melakukan manuver udara selama Dubai Airshow 2021 di emirat Teluk pada 14 November 2021. Foto: GIUSEPPE CACACE / AFP

Pihak Prancis, baik pejabat tinggi maupun CEO dari Dassault Aviation, memandang Indonesia sebagai negara dengan peran besar dan penting di kawasan Indo-Pasifik.

Perjanjian ini juga menjadi tanda dari semakin menghangatnya hubungan antara Indonesia dan Prancis, setelah posisi Prancis di kawasan Indo-Pasifik sempat memburuk usai perkara kapal selam dengan Australia.

Sejak kontrak kapal selam Prancis-Australia kolaps, Prancis mulai memperkuat hubungannya dengan negara-negara di Asia dan Indo-Pasifik, seperti Jepang, India, dan juga Indonesia.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengamankan jet Dassault Rafale. India sudah lebih dulu membeli 36 unit jet Rafale pada 2016 lalu.

Menhan Prabowo Subianto, menerima kunjungan kehormatan Menhan Prancis, Florence Parly di Jakarta, Kamis (10/2). Foto: Biro Humas Setjen Kemhan

Seperti diketahui, Australia membatalkan kontrak pembelian kapal selam dari Naval Group Prancis secara mendadak pada September lalu. Saat itu, Australia akan membangun sendiri kapal selam bertenaga nuklir dengan teknologi dari AS.

Pengembangan kapal itu merupakan bagian dari perjanjian di bawah pakta keamanan tiga negara AUKUS (Australia, Inggris, dan Amerika Serikat). AUKUS disebut dibentuk sebagai upaya menangkis pengaruh besar China di kawasan.

Pembatalan yang mendadak ini tentunya membakar amarah Prancis. Presiden Macron memutuskan untuk memanggil pulang Dubesnya dari Washington dan Canberra.

RI merupakan salah satu negara yang dengan tegas menyatakan keprihatinan atas pembentukan AUKUS. Menlu Retno, pada September 2021, mengatakan pembangunan kapal selam bertenaga nuklir oleh Australia berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan Indo-Pasifik.