Penyintas Gempa Maroko Berjuang di Tengah Sulitnya Air hingga Tempat Berlindung

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Relawan menemukan jenazah dari puing-puing rumah yang runtuh di Tafeghaghte, 60 kilometer barat daya Marrakesh, Maroko, Minggu (10/8/2023). Foto: Fadel Senna/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Relawan menemukan jenazah dari puing-puing rumah yang runtuh di Tafeghaghte, 60 kilometer barat daya Marrakesh, Maroko, Minggu (10/8/2023). Foto: Fadel Senna/AFP

Penyintas gempa bumi yang menewaskan lebih dari 2.100 orang di Maroko hingga kini masih berjuang demi mendapatkan tempat berlindung, air, dan makanan.

Sementara itu, tim penyelamat berpacu dengan waktu mencari korban selamat lainnya yang tertimpa puing-puing bangunan akibat gempa 6,8 magnitudo yang terjadi pada Jumat (8/9) tersebut.

Dikutip dari Reuters, Senin (11/9), berdasarkan laporan terbaru sepanjang akhir pekan korban jiwa telah mencapai 2.122 orang dan 2.421 lainnya luka-luka. Angka ini bertambah dari laporan sehari sebelumnya โ€” 2.012 orang tewas dan 2.059 menderita luka-luka.

Pusat gempa terletak sekitar 72 km dari Marrakesh โ€” kota dengan arsitektur mozaiknya yang indah dan kerap menjadi destinasi wisata lokal maupun asing.

Kerusakan akibat gempa paling dirasakan di desa-desa sekitar High Atlas, sebuah pegunungan terjal yang dihuni oleh permukiman warga terpencil. Kebanyakan rumah warga di sana dibangun dari tanah dan batu, sehingga menjadi salah satu faktor banyaknya korban jiwa.

Seorang pria berjalan dengan barang-barangnya melewati reruntuhan akibat gempa di Marrakesh, Maroko, Sabtu (9/9/2023). Foto: FADEL SENNA / AFP

Di Moulay Brahim, sebuah desa yang berjarak sekitar 40 km dari Marrakesh, penduduk menggali puing-puing bangunan dengan tangan kosong demi sepucuk harapan menemukan korban selamat.

Salah seorang warga lokal, Hussein Adnaie, meyakini masih banyak orang yang terkubur reruntuhan di sekitar tempat tinggalnya. Tapi, proses pencarian tidak berlangsung secepat yang diharapkan โ€” lantaran kurangnya alat-alat memadai serta bantuan dari otoritas.

"Mereka tidak mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan sehingga mereka meninggal," kata Adnaie. "Saya menyelamatkan anak-anak saya dan saya berusaha mendapatkan selimut untuk mereka dan apa pun yang bisa dipakai dari rumah itu," imbuhnya.

Di salah satu wilayah yang paling terdampak gempa lainnya, Desa Amizmiz, tim penyelamat menggali reruntuhan menggunakan alat berat di rumah-rumah yang runtuh.

"Mereka sedang mencari seorang pria dan putranya. Salah satu dari mereka mungkin masih hidup," kata seorang warga lokal bernama Hassan Halouch.

Relawan membawa jenazah korban gempa di desa Imi N'Tala dekat Amizmiz, Maroko, Minggu (10/8/2023). Foto: Fadel Senna/AFP

Namun, harapan menemukan korban selamat kemudian pupus โ€” mereka pada akhirnya hanya mendapati mayat-mayat yang tidak sempat tertolong nyawanya.

Di lokasi terpisah, penyintas gempa bernama Yassin Noumghar mengeluhkan kekurangan air, makanan, listrik, hingga tempat berlindung. Dia mengaku hanya menerima sedikit bantuan dari pemerintah sejauh ini.

Kami kehilangan segalanya, kami kehilangan seluruh rumah. Kami hanya ingin pemerintah membantu kami," ungkap Noumghar.

Keluhan serupa juga dialami penyintas gempa bernama Mohammed Nejjar. Dia saat ini berlindung di tempat penampungan sementara di lapangan terbuka dan dibangun dari tumpukan kayu.

Tiga malam telah berlalu pascagempa, warga Marrakesh dan High Atlas masih merasa trauma untuk memasuki rumah masing-masing, lantaran khawatir adanya gempa susulan.

Warga terdampak gempa bermalam di luar rungan di provinsi Al Haouz, Maroko, Sabtu (9/9/2023). Foto: Nacho Doce/REUTERS

Beberapa di antara mereka bahkan sudah tidak memiliki rumah lagi, usai diluluhlantakkan gempa. Sehingga, mereka memilih untuk mendirikan tenda ala kadarnya atau menggelar tikar di lapangan terbuka.

"Saya mendapat sedikit makanan dari seorang pria, tapi hanya itu saja sejak gempa. Tidak ada satu pun toko yang buka di sini dan orang-orang takut untuk masuk ke dalam rumah kalau-kalau atapnya runtuh," ungkap Nejjar.

Bencana ini merupakan gempa paling mematikan di Maroko sejak 1960, yang kala itu menewaskan sekitar 12 ribu orang. Media lokal melaporkan, banyak rumah di desa-desa sekitar lereng High Atlas dibangun tanpa fondasi kuat.

Rumah warga di pedesaan terpencil ini terbuat dari tanah, balok-balok kayu, dan semen. Selain rumah warga, gempa menghancurkan masjid-masjid di sekitarnya โ€” termasuk situs-situs bersejarah di Marrakesh yang menjadi salah satu destinasi wisata asing dan lokal.

kumparan post embed