Perang Besar Selandia Baru Melawan Hewan Pengerat

Selandia Baru tengah berperang saat ini. Musuh mereka bukan negara lain, melainkan tikus, possum dan cerpelai. Hewan-hewan pengerat ini diperangi demi kelestarian burung-burung.
Mengutip Associated Press, Kamis (11/5), genderang perang terhadap para pengerat ditabuh Perdana Menteri Selandia Baru John Key tahun lalu. Misi mereka: tahun 2050 Selandia Baru bebas hewan pengerat.
Sejak saat itu, pemerintah mengeluarkan jutaan dolar untuk membasmi pengerat. Padahal menurut prediksi, pemerintah butuh setidaknya miliaran dolar. Saat ini pemerintah tengah mencari dana tambahan dari donasi.
Para ilmuwan di Selandia Baru juga tengah mencari cara paling ampuh untuk membunuh pengerat, mulai dari mengembangkan perangkap modern, senjata genetik, hingga racun kimia baru.

Ada sekitar 50 relawan yang juga terlibat dalam aksi ini. Salah satunya adalah Paul Ward yang mengaku rela berburu tikus demi menyelamatkan burung-burung asli Selandia Baru. "Ini soal menjaga identitas kami sekaligus menjaga burung-burung," kata Ward.
Baca juga: Sumpah Serapah Pendukung Trump untuk Muslim di AS
Perusahaan Goodnature di Wellington telah mengembangkan perangkap sendiri. Perangkap itu menggunakan karbondioksida bertekanan yang mampu membunuh 24 tikus dalam waktu enam bulan. Perusahaan tersebut saat ini tengah mengembangkan drone penangkap tikus.
Jumlah pengerat di Selandia Baru lebih banyak ketimbang jumlah manusianya. Possum contohnya, menurut perhitungan 2009, ada 30 juta possum di Selandia Baru. Bandingkan dengan populasi negara itu yang 5 juta orang.

Gagasan menyelamatkan burung di negara itu muncul setelah Sir Paul Callaghan, ilmuwan ternama Selandia Baru, menyampaikan pidato yang menggugah. Dia mengatakan, dalam hal warisan, Inggris punya Stonehenge, China punya Tembok China, Prancis punya lukisan gua Lascaux, sementara Selandia Baru punya burung.
Menurut Callaghan, pemusnahan pengerat akan menjadi misi besar, program Apollo-nya Selandia Baru. Sebulan setelah berpidato, Callaghan meninggal dunia karena kanker namun cita-citanya menggema.
Baca juga: Bocah 8 Tahun di AS Gantung Diri karena Di-bully

Jutaan tahun lalu sebelum manusia tiba di Selandia Baru, negara itu punya banyak jenis burung yang hidup damai di hutan. Lalu manusia hadir membawa predator. Tikus-tikus ikut dalam kapal ke Selandia Baru, sementara possum sengaja didatangkan untuk diambil bulunya, dan cerpelai dilepas untuk membasmi hama kelinci.
Hewan-hewan yang dibawa manusia ini merusak habitat hutan, burung-burung serta telur mereka jadi santapan.
Ada lebih dari 40 jenis burung asli Selandia Baru punah karena pengerat, sisanya terancam punah. Salah satu yang jumlahnya kian menurun adalah burung ikon Selandia Baru: kiwi.
