Perang Gaza Picu Lonjakan PTSD dan Bunuh Diri di Tentara Israel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tentara Israel. Foto: GPO/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Tentara Israel. Foto: GPO/Handout via REUTERS

Israel mengalami lonjakan angka gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan bunuh diri setelah dua tahun perang Gaza pecah.

Hal itu tertuang dalam laporan yang dirilis Kementerian Pertahanan serta penyedia layanan kesehatan di Israel, Jumat (16/1).

Sepanjang konflik Gaza ditambah perseteruan bersenjata melawan Iran dan Hizbullah di Lebanon, Israel mengerahkan ratusan ribu tentara dan pasukan cadangan ke medan perang. Dari ratusan ribu orang itu seribu di antaranya tewas dalam perang.

Menurut laporan studi di Israel, perang berdampak buruk terhadap kesehatan mental tentara. Sebab, para prajurit dibebani tugas menyelamatkan sandera, melenyapkan Hamas, hingga melucuti senjata Hizbullah.

Tentara Israel beroperasi di Jalur Gaza di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas, dalam gambar selebaran yang dirilis pada 14 Desember 2023. Foto: Israel Defense Forces/Reuters

Dalam keterangannya, Kementerian Pertahanan Israel menyatakan sejak September 2023 terjadi kenaikan hampir 40 persen kasus PTSD di kalangan tentaranya.

Angka tersebut diperkirakan meningkat hingga 180 persen pada 2028. Laporan itu juga mengungkap, dari 22.300 tentara yang terluka, sebanyak 60 persennya menderita PTSD.

“Layanan kesehatan yang diberikan kepada mereka yang menghadapi masalah kesehatan mental telah diperluas, dan anggaran pun ditingkatkan,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Israel, seperti dikutip dari Reuters.

Bendera Israel terlihat di kendaraan militer saat melewati perbatasan Israel setelah meninggalkan Gaza selama gencatan senjata sementara antara kelompok Islam Palestina Hamas dan Israel, di Israel, Jumat (24/11/2023). Foto: Amir Cohen/REUTERS

Terpisah penyedia layanan kesehatan di Israel, Maccabi, menyatakan pada 2025 sebanyak 39 persen personel militer Israel dirawat akibat masalah kesehatan mental. Sebanyak 26 persen lainnya mengaku khawatir akan mengalami gangguan mental.

Sementara itu, psikolog klinis Israel Ronen Sidi menyebut para tentara Israel menghadapi dua jenis kecemasan saat bertugas.

Pertama, ketakutan akan kematian di medan tugas. Kedua, luka moral pada hati nurani seseorang akibat tindakan yang telah mereka lakukan.

Terkait bunuh diri, sebuah komite di parlemen Israel melaporkan bahwa pada periode Januari 2024 hingga Juli 2025, sebanyak 279 tentara Israel mencoba bunuh diri. Angka ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Komite tersebut juga menemukan bahwa 78 persen kasus bunuh diri di seluruh Israel melibatkan anggota militer.