Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh, Masyarakat Diajak Menjaga Alam

kumparanNEWSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah pengunjun berada di kawasan tugu peringatan tsunami di Desa Gampong Pasir Lhok Aron, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Rabu (25/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pengunjun berada di kawasan tugu peringatan tsunami di Desa Gampong Pasir Lhok Aron, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Rabu (25/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Peristiwa gempa dan tsunami Aceh kini telah 15 tahun berlalu. Bencana alam yang menggulung nyawa manusia lebih dari 200 ribu jiwa menyisakan catatan sejarah dan pembelajaran agar masyarakat menjaga lingkungan.

Pemerintah Aceh menggelar serangkaian acara seremonial peringatan bencana 26 Desember 2004 silam, di Pidie Convention Center (PCC), Sigli, Pidie, Aceh, pada Kamis (26/12). Momen peringatan kali ini mengusung tema 'Melawan Lupa, Siaga Bencana'.

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengatakan peringatan 15 tahun tsunami Aceh tidak bermaksud membuka kesedihan dan luka lama. Namun, untuk membangkitkan semangat masyarakat Aceh agar lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan dan selalu waspada akan segala jenis bencana.

Anak-anak bermain di salah satu rumah yang rusak akibat bencana gempa dan gelombang tsunami 26 Desember 2004 di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (21/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), bencana yang melanda Aceh hingga November 2019, terjadi sebanyak 754 kali. Paling banyak adalah kebakaran hutan dan lahan, serta banjir.

“Ini bukan jumlah yang sedikit dan seharusnya dapat dicegah. Karenanya, pada momen peringatan ini saya mengajak kita semua agar hendaknya dapat menahan diri dari segala perbuatan merusak alam dan lingkungannya,” kata Nova, dalam sambutannya.

Anak-anak bermain di salah satu rumah yang rusak akibat bencana gempa dan gelombang tsunami 26 Desember 2004 di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (21/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Dia mengatakan Aceh dan sejumlah wilayah lain di Indonesia terletak di kawasan yang rawan bencana. Hal itu dikarenakan letak geografis Indonesia merupakan titik bertemunya tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik.

Lempeng ini, kata Nova, kerap bergeser membentur lempeng lainnya sehingga berdampak pada terjadinya gempa bumi.

“Bahkan juga berpotensi berulangnya tsunami. Ini sudah tercatat sejak lama dalam sebuah penelitian jejak tsunami purba di Gua Ek Leuntie, Lhoong, Aceh Besar,” ujarnya.

Nelayan membenahi jaring diantara kapal dan perahu yang ditambatkan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh, Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Rabu (25/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Dikatakan Nova, berbagai bencana lain juga mengancam Aceh dan sering terjadi, seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, banjir genangan, tanah longsor akibat perambahan hutan.

Oleh karena itu, ia berharap strategi mitigasi dan manajemen risiko bencana melalui penguatan kapasitas tim tanggap darurat.

“Kami mengimbau agar masyarakat dan pihak terkait di seluruh Aceh untuk membentuk komunitas-komunitas peduli bencana. Komunitas ini diharapkan bisa berperan mensosialisasikan teknik-teknik penanggulangan bencana, sehingga program mitigasi bencana dapat tersebar di tengah-tengah masyarakat kita,” pungkasnya.

kumparan post embed