Perjalanan Prabowo Cari Pesawat Tempur Berlabuh di Rafale
·waktu baca 4 menit

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menerima kunjungan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly di Jakarta, Kamis (10/2). Dalam pertemuan ini, terjalin sejumlah kesepakatan dan penandatanganan MoU kedua negara.
Salah satu yang cukup menjadi perhatian, yakni kesepakatan memborong pesawat tempur multirole combat aircraft, Dassault Rafale. Tak tanggung-tanggung, ada 42 pesawat yang diborong Prabowo.
"Kita mulai hari ini dengan tanda tangan kontrak pertama untuk 6 pesawat yang akan disusul dalam waktu dekat dengan kontrak untuk 36 pesawat lagi dengan dukungan latihan persenjataan dan simulator-simulator yang dibutuhkan," ujar Prabowo kepada wartawan, Kamis (10/2).
Produk Prancis memang bukan yang pertama dipakai di Indonesia. Ada helikopter Caracal yang saat ini menjadi salah satu alutsista TNI.
Dalam pertemuan ini, Prabowo juga sepakat untuk melakukan overhaul terhadap pesawat-pesawat Prancis yang ada di Indonesia.
Perjalanan Prabowo Cari Pesawat
Sebelum menentukan pilihan ke Rafale, Prabowo sudah keliling ke sejumlah negara. Pendekatan dan penjajakan dalam mencari pesawat tempur untuk memperkuat TNI terus dilakukan.
Termasuk ke Rusia dan Amerika Serikat yang selama ini dua pesawat mereka sudah dioperasikan oleh TNI AU. Kedatangan Prabowo untuk membuka peluang pembelian pesawat terbaru buatan kedua negara.
Prabowo datang ke Rusia, pada Kamis, 25 Maret 2021. Dia bertemu langsung dengan Deputy Defence Minister of the Russian Federation – Head of the Main Military-Political Directorate of the Armed Forces of the Russian Federation, Colonel General Andrei Kartapolov, di Moskow.
Prabowo juga sempat datang ke Prancis dan bertemu dengan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly untuk membahas kerja sama pertahanan. Di sana, dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama di bidang pertahanan (defence cooperation agreement/DCA) dengan Prancis.
Lalu, Prabowo pada Jumat, 23 Oktober 2021 melaksanakan kunjungan ke Turki dan bertemu dengan Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar di Ibu Kota Ankara.
Dalam pertemuan ini Menteri Pertahanan kedua negara membicarakan mengenai kerjasama pertahanan antara kedua negara yang telah terjalin baik selama ini, perkembangan situasi pertahanan dan keamanan di kawasan serta kerjasama di bidang industri pertahanan.
Mantan Pangkostrad itu juga sempat ke Austria untuk bertemu dengan Menteri Pertahanan Austria, Klaudia Tanner, Selasa, 20 Oktober 2020. Keduanya bertemu untuk membahas pembelian pesawat tempur bekas milik angkatan udara Austria, Eurofighter Typhoon yang diincar Prabowo sejak pertengahan tahun ini.
Prabowo Subianto bersama Menteri Luar Negeri RI Retno L.P. Marsudi bertemu Perdana Menteri Jepang YM Yoshihide Suga, di Tokyo, pada Selasa, 30 Maret 2021.
Kunjungan kehormatan ini merupakan bagian dari rangkaian lawatan Menhan RI ke Jepang. Dalam lawatan ini, Menhan juga menggelar pertemuan bersama antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan RI - Jepang.
Salah satu topik yang dibahas adalah kebijakan negara tentang modernisasi alutsista Indonesia dan pengembangan industri pertahanan nasional. Untuk mendukung misi tersebut, perlu membangun jaringan yang lebih luas dan kerjasama internasional dengan negara sahabat seperti Jepang.
Kemudian, Prabowo Subianto juga ke Amerika Serikat untuk bertemu Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper dan bersepakat meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan. Kerja sama yang dijalin meliputi pemberian pendidikan dan pelatihan untuk taruna TNI di AS.
Prabowo memenuhi undangan Mark Esper ke markas besar tentara AS di Pentagon, Washinton DC pada Jumat (16/10/2020) lalu. Menurut informasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia/KBRI di Washington DC, pertemuan itu berlangsung hangat dan produktif.
Dari berbagai rangkaian kunjungan ke beberapa negara, untuk urusan pesawat tempur, Prabowo akhirnya berlabuh ke Rafale buatan Prancis.
Ancaman Sanksi Amerika Serikat
Keputusan Prabowo memilih Rafale untuk memperkuat TNI AU disebut-sebut ada kaitannya dengan Amerika Serikat. Ya, Prabowo memang memiliki sejumlah pilihan untuk urusan pesawat tempur.
Sebut saja Sukhoi SU-35, F-35, Eurofighter Typhoon, dan Rafale. Tapi, Amerika Serikat mengingatkan ancaman sanksi bagi Indonesia bila Prabowo meneruskan pembelian 11 unit Sukhoi SU-35. Ancaman itu tertuang dalam Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).
Kepada negara-negara yang berani-berani melirik alutsista Rusia untuk dibeli, AS punya senjata untuk menjegal: seperangkat aturan hukum bikinan mereka sendiri yang dinamai Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) alias Melawan Musuh AS dengan UU Sanksi.
Karena itu, memilih Rafale sebagai armada baru pertahanan udara Indonesia disebut-sebut sebagai pilihan tepat untuk menjaga hubungan sekaligus menghindari sanksi. Lagipula, Rafale juga punya spesifikasi yang cukup mumpuni. Berikut spesifikasi lengkapnya:
