Perjuangan Relawan Karhutla Kalsel di Tengah Asap

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Abidin Nur, relawan Tim Pemadam 07 Seka Fire Rescue atau Posko Induk PMK Seka, saat ditemui di Kantor DPW Kalimantan Selatan, Ahmad Yani, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Abidin Nur, relawan Tim Pemadam 07 Seka Fire Rescue atau Posko Induk PMK Seka, saat ditemui di Kantor DPW Kalimantan Selatan, Ahmad Yani, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Di bawah terik kemarau panjang, kabut asap putih masih mengepung wilayah Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Di balik pekatnya udara yang dihirup warga setiap hari, tersimpan cerita tentang ketangguhan mereka yang tak kenal lelah melawan si jago merah.

Sejak awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda, para relawan pemadam kebakaran (damkar) terus berjibaku di garis depan. Tantangan yang mereka hadapi di lapangan sama sekali tidak mudah, mulai dari medan yang sulit diterobos hingga pasokan air yang menipis akibat sungai-sungai yang mengering.

Relawan damkar dari Tim Pemadam 07 Seka Fire Rescue, Abidin Nur (50), menjadi salah satu saksi hidup perjuangan tersebut yang turun langsung ke titik-titik api meski minim fasilitas.

"Ya penuh perjuangan lah kita, selain asap kan air juga kita agak kurang lah memadamkan apinya tuh kan airnya kering kan di sungai-sungai," kata Abidin saat ditemui kumparan di kantor Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Kalimantan Selatan di Ahmad Yani, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10).

Tanpa sokongan dana yang memadai dari pemerintah, urusan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan dan mesin pompa air terpaksa diselesaikan secara mandiri oleh para anggota.

"Untuk sementara kita Banjarmasin kan nggak ada dapat bantuan apa, jadi swadaya kita sendiri nukar minyak," bebernya.

Mekanisme swadaya tersebut dijalankan melalui iuran sukarela dari sesama anggota serta sumbangan seikhlasnya dari warga sekitar tempat mereka beroperasi.

"Ya dari mobil, mesin semuanya lah kita dari masyarakat kita minta bantuan anggota pun kita ada iuran sukarela," tutur Abidin.

"Anggota mau memberi, kalau kada mampu ya nggak apa-apa. Dari masyarakat kita gitu juga," lanjutnya.

Kendati lelah mendera dan risiko keselamatan sangat tinggi, semangat para relawan tidak pernah surut demi memastikan titik api dapat dikendalikan.

"Kalau apinya sudah agak nurun, kesehatan teman-teman gimana, kalau kita pulang dulu. Supaya kita ada istirahat lah. Kalau memungkinkan kita tidur di situ, ya terpaksa lah. Istilahnya kada kawa (nggak bisa) ditinggalkan lah lahan itu," jelas Abidin.

Tantangan serupa turut dirasakan oleh Hasanuddin, relawan dari LPM Rescue Sungai Ulin, Kota Banjarbaru, yang harus menghadapi titik-titik api di kawasan hutan terpencil.

"Kalau untuk Sungai Ulin ini terutama yang aksesnya banyak hutan dan jauh dari rumah penduduk dan juga tidak ada akses jalan untuk menuju ke sana, itu hutan-hutannya daerah perbatasan dengan Kabupaten Banjar," katanya.

Di tengah kondisi kemarau panjang yang panas dan ekstrem, kerja keras para relawan di wilayah ini akhirnya mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah setempat.

"Terutama kalau wabil khusus kami dari pemerintah Kota Banjarbaru sudah ada santunan dan yang sudah terorganisasi dari BPBD Kota Banjarbaru, bantuan daripada BPBD Kota Banjarbaru dan Wali Kota Banjarbaru, Ibu Hajah Erna Risa Halaby," terang Hasanudin.

Dukungan tersebut kian bertambah setelah sepuluh perwakilan relawan menerima bantuan dana operasional sebesar Rp5 juta dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menutupi kebutuhan BBM.

"Nanti kami berkoordinasi dulu dengan seluruh relawan, pertama-tama kami untuk pemenuhan BBM dan selama operasional dari selama berlangsungnya karhutla," jelasnya.

"Mudah-mudahan segala bantuan-bantuan ini dapat kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan juga kami tetap berkecimpung dan berperang artinya selama karhutla ini menuntaskan dan untuk membirukan langit Kota Banjarbaru," pungkas Hasanuddin.

Nestapa Warga dan Asa yang Bergantung pada Hujan

Nelayan mencari ikan di Sungai Kahayan yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (24/10/2026). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTO

Dampak karhutla juga memukul telak roda perekonomian masyarakat kecil di Banjarbaru, salah satunya dirasakan oleh Yudi, seorang penjual es krim keliling di Landasan Ulin.

"Sudah kebun nggak ada, terusnya api aja di sini kan nggak padat jadi kebanyakan rawa. Jadi udahlah, terus kebakaran tuh tiap hari bunyinya," kata Yudi saat ditemui kumparan di depan Kantor Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Kalimantan Selatan di Ahmad Yani.

Meski udara dipenuhi kabut pekat, Yudi tetap harus mendorong gerobak dagangannya demi menyambung hidup di tengah terganggunya aktivitas sekolah anak-anak.

"Kalau di sini masih ada masuk jam sembilan, liburnya kadang selama 4-6 bulan nih paling cuman seminggu dua minggu, yang benar-benar liburnya tuh. Sisanya tuh cuman jam sembilanan, terus ada pulang cepat," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Yudi harus terus bekerja tanpa mengenal kata libur meski omzetnya merosot tajam dan pesanan khusus dari berbagai acara telah lama hilang.

"Nggak ada libur. Kerja aja terus," ucapnya.

Sebelum karhutla melanda, Yudi mengaku bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 200 ribu jika dagangannya habis dalam sehari.

"Bisa kalau rezeki Allah Ta'ala tuh habis satu ember. Lumayan dua ratus ribu untungnya," katanya mengenang masa normal.

Namun, Yudi menjelaskan, kondisi saat ini sulit baginya untuk mempertahankan penghasilan tersebut.

"Bertahan aja susah," bebernya.

Pesanan-pesanan dalam acara khusus pun semakin Jarang. Ia mengaku pesanan untuk sebuah kegiatan terakhir diterimnya pada Juli 2026 lalu.

"Dari bulan Juli terakhir di Asrama Haji tuh kemarin pernah dibooking dipesan. Nih Juli, Agustus, September, Oktober, November. Nah nggak ada orang pesan," ucapnya sembari menahan tangis.

Amini dan Sari warga Landasan Ulin, Banjarbaru, saat ditemui di Kantor DPW Kalimantan Selatan, Sabtu (24/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Nasib serupa turut dialami oleh Amini dan Sari, warga setempat yang telah berbulan-bulan hidup berdampingan dengan kabut asap sisa karhutla.

"Kalau udara ya begini nih, penuh kabut asap lah," ucap Amini.

"Bukan menguning, memutih," kata Amini saat menggambarkan warna pekatnya udara di permukiman mereka.

Selama empat bulan menghadapi bencana ini, bantuan yang mereka terima dari pihak luar terbilang sangat minim dan terbatas.

"Belum. Cuma dapat masker aja lah. Sama cek kesehatan, dan vitamin," ungkap Amini.

Di tengah situasi yang serba sulit dan udara yang belum kunjung membaik, tidak banyak hal yang bisa diharapkan oleh para warga selain turunnya air hujan.

"Ya semoga turun hujan. Hujan cepat turun aja deh," tutur Sari.

"Nggak bisa mengharap lebih lah selain minta hujan aja," harapnya.