Pernah Gagal UN, Dosen UGM Asal Sleman Berhasil Lulus S2 dari Oxford dan Harvard

10 Juni 2021 16:31
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Muhammad Rifky Wicaksono, dosen Fakultas Hukum (FH) UGM. Foto: Dok. Muhammad Rifky Wicaksono
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Rifky Wicaksono, dosen Fakultas Hukum (FH) UGM. Foto: Dok. Muhammad Rifky Wicaksono
ADVERTISEMENT
Kegagalan di masa lalu bukan berarti berhenti untuk maju. Hal itulah yang mencerminkan Muhammad Rifky Wicaksono. Dosen UGM yang pernah tidak lulus UN SMA tetapi berhasil mendapatkan gelar magister di bidang hukum dari Harvard University dan Oxford University.
ADVERTISEMENT
Rifky baru saja lulus dari magister hukum Harvard dengan dua penghargaan dari kampus top dunia itu. Pertama, ia mendapatkan Dean's Scholar Prize karena berhasil mendapatkan nilai tertinggi pada dua mata kuliah.
Kemudian ia lulus dengan predikat Honors berkat tesisnya yang membahas hukum persaingan usaha di pasar digital dengan mengembangkan 'theory of harm'.
Muhammad Rifky Wicaksono, dosen Fakultas Hukum (FH) UGM. Foto: Dok. Muhammad Rifky Wicaksono
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Rifky Wicaksono, dosen Fakultas Hukum (FH) UGM. Foto: Dok. Muhammad Rifky Wicaksono
Ia merupakan satu-satunya WNI yang diwisuda dari Harvard untuk program Master of Laws dari Harvard Law School tahun ini.
“Alhamdulillah, sangat bersyukur bisa menyelesaikan studi dalam waktu 10 bulan dan wisuda kemarin Mei,” kata Rifky dalam keterangannya, Kamis (10/6) seperti dalam siaran pers UGM.
Pada 2017, ia lulus dari Oxford dengan gelar Magister Juris dengan beasiswa Jardine Foundation. Ia meraih Distinction, predikat akademik tertinggi, saat wisuda dari kampus tersebut.
ADVERTISEMENT
Di balik gemilangnya prestasi Rifky, ternyata ia pernah tidak lulus saat UN SMA. Hal itu terjadi karena ia sibuk untuk mempersiapkan lomba debat di level Internasional.
“Gagal UN waktu itu menjadi salah satu titik balik kehidupan saya. Saya belajar bahwa kesuksesan tidak bisa instan dan hanya mengandalkan bakat, perjuangan kita saat menjalani proses itu ternyata lebih penting," kenangnya.
Dari kegagalan itu, ia belajar untuk berjuang lebih keras. Hingga kemudian ia bisa masuk ke FH UGM pada 2010. Selama kuliah, ia pernah menjadi Mahasiswa Prestasi FH UGM 2012. Ia juga pernah mewakili Indonesia dalam lomba peradilan semu, Phillip C Jessup International Law Moot Court Competition.
Muhammad Rifky Wicaksono, dosen Fakultas Hukum (FH) UGM. Foto: Dok. Muhammad Rifky Wicaksono
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Rifky Wicaksono, dosen Fakultas Hukum (FH) UGM. Foto: Dok. Muhammad Rifky Wicaksono
Ia pun berhasil lulus dari FH UGM pada tahun 2014 dengan IPK yang nyaris sempurna yaitu 3,95. Setelah lulus, ia bekerja di firma hukum Assegaf Hamzah and Partners.
ADVERTISEMENT
Setelah satu tahun bekerja, ia memutuskan untuk mengajar di UGM sebagai asisten dosen. Kemudian, pada 2016 ia mencoba peruntungan mengikuti seleksi beasiswa Jardine Foundation untuk belajar di Oxford.
Setelah lulus dari Inggris, ia kemudian menjadi dosen tetap di UGM. Tak lama kemudian, pada 2020, ia kembali kuliah ke luar negeri dengan tujuan Harvard dengan beasiswa dari kampus tersebut.
“Akhirnya saya bisa kuliah dan lulus dari Harvard, tapi belum pernah menginjakkan kaki di sana. Gelarnya dari Harvard, tetapi kuliah dari rumah di Maguwoharjo, Sleman,” imbuhnya.

Kuliah daring

Di tengah pandemi corona, mau tak mau, ia harus menjalani kuliah secara daring saat belajar di Harvard. Salah satu tantangannya adalah perbedaan waktu Amerika dengan Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Misal kalau ada jadwal kuliah pagi jam 10, di sini waktunya jam 9 malam dan kalau kuliah sore jam 5 ya di sini jam 4 pagi. Ini tantangan yang luar biasa karena harus bergelut dengan perbedaan waktu yang mengubah drastis pola kerja dan tidur," jawabnya.
Selain harus membaca materi kuliah ratusan halaman, ia juga harus membagi waktunya karena harus mengurus keluarga.
“Menantangnya kalau sekarang adalah bagaimana menyeimbangkan dengan peran sebagai suami dan ayah, berbeda saat dulu di Oxford masih single,” katanya.
Kepada anak muda, ia berpesan, kegagalan bukanlah musuh. Musuh yang sebenarnya adalah ketakutan atas kegagalan.
"Maka beranilah bermimpi sebab kemajuan bangsa kita bergantung pada orang-orang dengan mimpi besar dan rela jatuh bangun untuk mewujudkan mimpi mereka,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020