Persoalan Tercemarnya Air Warga Serpong Lagoon yang Penuh E. coli

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Escherichia coli atau E. Coli. Foto: Saiful52/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Escherichia coli atau E. Coli. Foto: Saiful52/Shutterstock

Sebanyak 146 anak dan orang dewasa di Perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, dilaporkan mengalami diare dan muntaber hingga Selasa (13/10). Warga menduga kasus itu berkaitan dengan air yang disalurkan ke rumah mereka. Pemeriksaan Puskesmas pada sampel air dari salah satu rumah menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli).

Sebagian korban menjalani rawat inap, sebagian lain dirawat di rumah.

Bermula dari Laporan Seorang Ibu

Kondisi penampungan air yang tercemar di perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (14/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Kasus ini bermula pada 7 Oktober 2026, ketika seorang ibu melaporkan anaknya demam, muntah, dan diare. Warga lain menyusul dengan keluhan serupa. Dalam pendataan warga, ada kasus yang sudah terjadi sejak 17 September 2026.

Pada 8 Oktober, warga mendata korban lewat lembar pendataan bersama. Kader Posyandu juga berkoordinasi meminta Puskesmas datang. Sehari kemudian, Puskesmas bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel mengambil sampel air dari instalasi pengolahan air (Water Treatment Plant/WTP) dan sejumlah rumah warga.

Hasil pemeriksaan Puskesmas menunjukkan sampel air dari salah satu rumah mengandung E. coli sebesar 5–7 CFU. Menurut dokumen tersebut, kandungan yang dipersyaratkan adalah nol.

Dugaan keterkaitan antara kualitas air dan kasus muntaber itu masih perlu pemeriksaan lebih menyeluruh. Pemeriksaan itu mencakup investigasi epidemiologi dan pengujian kualitas air di sejumlah titik distribusi.

kumparan post embed

Cerita Warga: Anak Diare hingga Pingsan

Kondisi air di rumah ibu Novi, warga kompleks perumahan Serpong lagoon, nampak ada butiran pasir dalam air tersebut, Rabu (14/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Novi, warga Serpong Lagoon, mengatakan anak bungsunya yang berusia tujuh bulan diare selama dua hari. Ia sempat mengira penyebabnya makanan pendamping ASI (MPASI). Sebelum bayi itu sempat dibawa ke dokter, anak sulungnya diare dan muntah tengah malam.

“Jam setengah satu malam tiba-tiba diare, muntah, diare, muntah. Dan itu terus intens sampai kira-kira jam setengah lima subuh. Terakhir dia muntah di toilet, dia pingsan, langsung kita bawa ke UGD,” ungkap Novi.

Novi lalu melihat unggahan story WhatsApp tetangga yang anaknya juga masuk IGD. Warga kemudian mendata anak yang sakit lewat grup WhatsApp lingkungan. Menurut Novi, jumlahnya terus bertambah hingga sekitar 150-an anak.

Novi tinggal di Serpong Lagoon sejak 2016. Keluarganya memakai air WTP untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK), sedangkan untuk minum memakai air kemasan atau isi ulang. Menurut dia, air keran di rumahnya kadang keruh dan berpasir.

“Sejak awal kita tinggal di sini tuh sebenarnya juga udah enggak yakin ya dengan keadaan air, memang kurang baik sih,” ujar Novi.

“Setelah 10 tahun tinggal di sini, baru concern karena kebetulan anak dua-duanya kena, jadi ya aku kayak, ‘Ada apa sih ini air ini sebenarnya?’” katanya.

Ia berharap kasus ini tidak berhenti begitu saja.

“Jangan sampai ini masalahnya menguap lagi karena sudah ada korban, gitu. Jadi dari ibu-ibu tuh penginnya closing-nya tuh ya jangan kita lagi yang dirugikanlah penginnya gitu,” tutup Novi.

kumparan post embed

Anak Angie Dirawat, Air Rumah Positif E. coli

Angie, warga komplek Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (15/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Angie, warga lain, mengaku kaget saat sampel air rumahnya dinyatakan positif E. coli dengan angka 660. Anaknya sebelumnya demam tinggi, lemas, lalu diare, dan dokter menyarankan rawat inap selama tiga hari.

Angie membawa sampel feses anaknya ke laboratorium secara mandiri dengan tes GI panel lengkap.

“Saya masukin langsung ke lab secara saya pribadi, saya bayar pribadi dengan GI panel lengkap saya order-nya. Hasilnya keluar di Minggu malam. Positif Rotavirus juga E. coli,” ujarnya.

Saat anaknya dirawat, ia meminta rumahnya ikut diperiksa setelah mendapat informasi pendataan dari kader setempat.

“Ditemukan kecocokan bahwa di dalam tubuh anak saya ada E. coli dan di rumah saya airnya itu ada E. coli-nya dengan tingkat 660. Jadi cocok, ya,” kata Angie.

Angie membeli 10 galon air untuk kebutuhan MCK anaknya dan tidak lagi memakai air keran untuk memasak.

“Saya masak enggak pernah pakai air keran, selalu air galon,” kata Angie.

Ia mengaku sendiri yang mengantar laporan warga ke DPRD agar persoalan ini ditindaklanjuti.

kumparan post embed

Keluhan Lama, Tuntutan Warga

Kondisi air keruh di salah satu rumah warga perumahan Serpong Lagoon, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (14/10/2026). Foto: Dok. Istimewa

Warga mengaku sudah lebih dulu mengeluhkan kualitas air kepada pengelola WTP, antara lain lewat surat resmi RT Cluster Aquatic bernomor 1/SP/05/2026. Pengelola disebut sudah meminta maaf. Namun, warga menilai belum ada mitigasi dan rencana tindak lanjut terukur.

Seluruh rumah di perumahan itu disebut menerima pasokan air dari PT Arfa Poetra Soegama (APS). Sejumlah warga memasang filter tambahan dengan biaya sendiri, tetapi kasus diare dan muntaber masih terjadi di beberapa rumah yang sudah memasangnya. Pengurus RT/RW dan perwakilan warga juga membentuk tim relawan pemantau kualitas air. Pengelola WTP disebut mengizinkan warga mengambil sampel dari titik WTP.

Warga Serpong Lagoon selanjutnya meminta Pemerintah Kota Tangerang Selatan, DPRD, dan pengelola WTP mengambil langkah konkret untuk memastikan keamanan air yang digunakan masyarakat.

Warga mengusulkan penyediaan pasokan air alternatif yang kualitasnya telah diverifikasi laboratorium. Mereka juga meminta pemerintah menyampaikan instruksi resmi mengenai penggunaan air untuk minum, memasak, mandi, dan mencuci berdasarkan penilaian risiko dari Dinas Kesehatan.

Suasana diskusi warga Serpong Lagoon dengan Wakil Walikota Tangsel di Sport Club Serpong Lagoon, Kamis (15/10/2026). Foto: Pradya/kumparan

Warga turut meminta pengujian laboratorium independen pada sumber air baku, air setelah pengolahan di WTP, reservoir, dan keran rumah. Hasil pengujian diminta disampaikan secara tertulis dan terbuka kepada warga.

Selain pemeriksaan kualitas air, warga meminta audit teknis terhadap proses filtrasi, disinfeksi, reservoir, serta jaringan distribusi. Pengujian ulang juga diharapkan dilakukan setelah perbaikan untuk memastikan air memenuhi persyaratan sesuai peruntukannya.

Perwakilan warga, Arnis Silvia, menekankan pemenuhan kebutuhan air bersih.

“Air bersih bukanlah tuntutan, ia adalah kebutuhan dasar. Keselamatan warga bukan hanya bahan audiensi, ia adalah hak asasi. Permintaan maaf jangan jadi retorika, harus berujung pada tindakan nyata,” ujar Arnis dalam rilis resminya, Rabu (14/10).

kumparan post embed

Mengenal E. coli

Ilustrasi Escherichia coli atau E. Coli. Foto: Prrrettty/Shutterstock

Menurut WHO, E. coli umumnya hidup di usus bagian bawah organisme berdarah hangat. Ada yang tidak berbahaya, ada pula yang patogen, salah satunya Shiga Toxin-Producing Escherichia coli (STEC).

E. coli patogen bisa masuk ke tubuh lewat makanan terkontaminasi, seperti daging mentah atau setengah matang, susu tak terpasteurisasi, dan sayuran. Sumber air serta kontaminasi tinja juga bisa menjadi jalur penularan. Infeksinya dapat menyebabkan diare berdarah dan kram perut. Pada anak di bawah 5 tahun dan lansia, infeksi bisa berkomplikasi menjadi sindrom uremik hemolitik. Kebanyakan penderita pulih dalam 5 sampai 10 hari.

kumparan post embed