Pesan Haedar Nashir di Momen Idul Adha: Perkuat Spiritualitas dan Moralitas
·waktu baca 2 menit

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam untuk memperkuat spiritualitas takwa dalam kehidupan pribadi, sosial, hingga kebangsaan di momen Idul Adha tahun ini.
Haedar berpesan Idul Adha jangan hanya dimaknai sebagai ritual formal berupa Salat Id dan penyembelihan hewan kurban.
"Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari manusia yang melaksanakannya. Karena itu, substansi Idul Adha adalah penguatan spiritualitas dan moralitas," kata Haedar, Selasa (26/5).
Haedar mengatakan gambaran spiritualitas dapat dilihat dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Ketiganya menunjukkan kepasrahan kepada kehendak Allah SWT.
"Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya atas perintah Allah. Siti Hajar menunjukkan keteguhan iman, sementara Nabi Ismail memperlihatkan kepatuhan yang sangat tinggi. Ketiganya menjadi uswah hasanah tentang bagaimana ketakwaan melahirkan jiwa pengorbanan dan kebajikan," katanya.
Nilai-nilai Idul Adha
Lanjut Haedar, spiritualitas takwa akan melahirkan insan yang mampu membebaskan diri dari hawa nafsu, kerakusan duniawi, dan ego pribadi. Sehingga muncul sikap kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai Idul Adha, menurut Haedar, apabila hidup dalam diri umat Islam, maka akan lahir pribadi-pribadi yang saleh. Baik sebagai rakyat maupun pemimpin.
"Insan yang memiliki spiritualitas takwa akan hidup dengan kejujuran, kesederhanaan, ketulusan, kesabaran, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama. Mereka juga memiliki etos ilmu, berpikir positif, bekerja keras, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang amal menuju akhirat," katanya.
Sementara itu, menurut Haedar, apabila manusia kehilangan nilai takwa mudah terjerumus pada perilaku koruptif, penyalahgunaan kekuasaan, kerakusan ekonomi, hingga tindakan yang merusak lingkungan dan kehidupan sosial.
"Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak akan korupsi, tidak semena-mena dalam kekuasaan, tidak antikritik, tidak tamak, dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat," katanya.
Demikian pula dalam konteks kehidupan modern, akhlak mulia harus hadir di ruang publik dan media sosial.
"Ketakwaan harus tercermin dalam cara bermedia sosial, dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan membangun ukhuwah dengan nyata," ujarnya.
Pesan ke Generasi Muda
Haedar secara khusus juga memberikan pesan kepada generasi milenial, generasi Z, dan generasi alpha agar Idul Adha jadi sarana pembentukan karakter unggul dan berkemajuan.
Diharapkan generasi muda taat beragama, gemar membaca, mencintai ilmu pengetahuan, menguasai teknologi dan keahlian, hingga memiliki etos kerja tinggi.
"Generasi muda jangan terjebak budaya instan, malas, hedonistik, dan gemar pamer kemewahan. Spiritualitas takwa harus melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, dan memberi manfaat bagi kehidupan," kata Haedar.
