Pilpres Kolombia: Mantan Gerilyawan vs Raja Kontruksi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
kandidat presiden Kolombia Gustavo Petro (kiri) dan kandidat presiden 'Liga Pemimpin Antikorupsi' Rodolfo Hernandez. Foto: JUAN BARRETO, YURI CORTEZ/AFP
zoom-in-whitePerbesar
kandidat presiden Kolombia Gustavo Petro (kiri) dan kandidat presiden 'Liga Pemimpin Antikorupsi' Rodolfo Hernandez. Foto: JUAN BARRETO, YURI CORTEZ/AFP

Kolombia akan menyaksikan seorang mantan gerilyawan sayap kiri berhadapan dengan seorang jutawan dalam pemilihan umum presiden pada Minggu (19/6/2022).

Gustavo Petro menduduki putaran pertama pemungutan suara di urutan teratas pada bulan lalu. Pria berusia 62 tahun itu bersaing demi menjadi presiden sayap kiri pertama di Kolombia.

Namun, elite politik tradisional negara itu mengucurkan dukungannya kepada saingan Petro, Rodolfo Hernandez. Dia adalah raja konstruksi berusia 77 tahun.

Kampanye pilpres yang menegangkan belum mengindikasikan kandidat juara hingga kini. Jajak pendapat terbaru yang tak meyakinkan itu menandakan persaingan ketat di masa mendatang.

Organisator Gerilya

Seorang demonstran jatuh saat terkena meriam air selama bentrokan dengan polisi anti huru hara di tengah protes terhadap pemerintah Presiden Kolombia Ivan Duque di Bogota pada 12 Juni 2021. Foto: Juan BARRETO/AFP

Pilpres mendatang merupakan yang ketiga bagi Petro. Dia mengeklaim dirinya sebagai pejuang revolusioner untuk kaum terpinggirkan.

Petro berjanji untuk mengatasi kelaparan dan ketidaksetaraan sambil menyasar dukungan dari orang miskin, kaum muda, serta orang kulit hitam dan pribumi.

Petro lahir dari keluarga sederhana di pantai Karibia. Ayah enam anak itu digambarkan sebagai orator ulung.

Petro mulai masuk ke politik kiri saat remaja usai kudeta pada 1973 di Chile yang menggulingkan presiden Marxis, Salvador Allende.

Petro kemudian bergabung dengan kelompok gerilya perkotaan M-19 saat berusia 17 tahun. Tetapi, dia bersikeras, perannya dalam perang saudara di Kolombia adalah sebagai organisator, bukan sebagai pemberontak.

Pada 1985, Petro ditangkap oleh militer pada 1985. Dia mengaku mengalami siksaan sebelum menghabiskan hampir dua tahun di penjara atas tuduhan kepemilikan senjata.

M-19 kemudian menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintah pada 1990. Petro pun dibebaskan dan mulai menjabat sebagai senator dan wali kota sejak itu.

Ilustrasi prostitusi dan narkoba. Foto: Doidam 10/Shutterstock

Petro sempat menghadapi tuduhan bahwa dia memiliki kecenderungan bersikap sewenang-wenang saat menjabat sebagai Wali Kota Bogota pada 2012-2015.

Kritikus Petro telah berusaha untuk menggambarkannya sebagai populis radikal yang akan membawa keruntuhan ekonomi ala Venezuela.

Namun, Petro pernah mencerca pemerintahan tetangga yang tak stabil tersebut. Petro bersumpah, perampasan tak akan terjadi di bawah pengawasannya

Kolombia memiliki tradisi pembunuhan politik. Petro lantas kerap terlihat melakukan perjalanan dengan konvoi kendaraan lapis baja. Dia selalu ditemani oleh polisi, ambulans, dan penembak jitu.

Petro mengatakan, dia akan membuka kembali negosiasi dengan kelompok gerilya terakhir Kolombia, ELN. Dia juga menjanjikan pemberantasan perdagangan narkoba secara damai.

Selama kampanye, Petro turut menjadikan perubahan iklim sebagai salah satu fokusnya. Dia mengusulkan penghentian eksplorasi minyak mentah secara bertahap.

Gagasan itu dinilai kontroversial. Sebab, sektor yang dia rujuk merupakan penghasil pendapatan utama bagi Kolombia.

Jutawan Eksentrik

Ilustrasi koruptor. Foto: Shutter Stock

Kandidat independen Hernandez dijuluki sebagai Trump-nya Kolombia. Dia berhasil mengejutkan negara dengan mencapai putaran kedua.

Hernandez mengeklaim memiliki kekayaan USD 100 juta (Rp 1,4 trilun). Hernandez mengatakan, kekayaannya berasal dari pembangunan akomodasi terjangkau pada 1970-an.

Hernandez mengatakan, dia ingin mengakhiri kemiskinan tanpa menyingkirkan orang kaya. Dia juga bersumpah untuk tidak menerima gajinya dan memangkas biaya politik.

Jutawan eksentrik itu telah mengubrak-abrik kampanye pemilu tradisional dengan serangkaian kebijakan kiri dan kesalahan kikuk.

Melalui kampanye di media sosial, Hernandez bersumpah akan menutup kedutaan besar di seluruh dunia hingga melunasi hutang pelajar. Hernandez menyebut dirinya 'Raja Tiktok'.

Hernandez dikenal lantaran seringkali mengusulkan perubahan kebijakan 180 derajat di tengah-tengah kampanye. Misalnya, dia mendukung dan kemudian menentang penghancuran tanaman obat dengan penyemprotan kimia.

Mengusung kampanye anti-korupsi, Hernandez mencap politikus tradisional sebagai 'pencuri'. Namun, dia kemudian menerima dukungan mereka usai mengalahkan kandidat mereka, Federico Gutierrez.

Adolf Hitler. Foto: Getty Images/Hulton Archive

"Saya menerima suara dari manapun, tetapi yang tidak saya inginkan adalah menerima perintah," ujar Hernandez, dikutip dari AFP, Jumat (17/6/2022).

Kendati demikian, Hernandez tengah menghadapi penyelidikan korupsi sejak menjabat sebagai Wali Kota Bucaramanga.

Hernandez terjerat kasus pemberian kontrak pengumpulan sampah senilai USD 143 juta (Rp 2 triliun). Dia akan diadili pada 21 Juli mendatang.

Selama masa jabatannya sebagai wali kota pada 2016-2019, Hernandez juga membuat kesalahannya paling mengkhawatirkan.

"[Saya] pengikut pemikir besar Jerman Adolf Hitler," ungkap Hernandez dalam siaran radio.

Ketika pembawa acara mengingatkannya, Hernandez berdalih bahwa dia salah menyebut nama Albert Einstein.

"Dia memanfaatkan kekesalan terhadap kelas politik tradisional, gaya komunikasi sederhana menggunakan bahasa sehari-hari, dan tentu saja jatuh ke dalam dunia populisme," jelas seorang ilmuwan politik di Universitas Los Andes, Angela Rettberg.

embed from external kumparan