Pilu Ema Jadi Korban Banjir di Bandung: Mesin Jahit Terendam, Tak Ada Pemasukan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ema (48), warga terdampak banjir di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Selasa (2/12/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ema (48), warga terdampak banjir di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Selasa (2/12/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan

Ema (48) sedang termenung di halaman rumahnya saat ditemui pada Selasa (2/12). Situasi banjir yang merendam rumahnya pada Senin (1/12) masih terekam jelas di kepalanya.

Ema merupakan seorang asisten rumah tangga. Warga Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margasih, Kabupaten Bandung, itu dipercaya oleh majikannya untuk mengurus usaha jahit di kontrakan petak yang ditinggalinya. Pendapatannya dihitung setiap pekan bagi hasil dengan sang pemilik.

Namun, kini mesin jahit itu tidak berfungsi karena terendam banjir setinggi 1,5 meter.

"Punya majikan. Ibu teh kerja udah lama, hampir 10 tahunan, jadi udah percaya dia teh. Jadi anaknya teh nitipin mesin gitu, bukan punya ibu sendiri," kata Ema ketika berbincang dengan kumparan.

"Jadi udah dipercaya ibu teh. Sekarang kena dampak ini enggak bisa maju lah. Kan itu servonya mati semua kerendam," lanjutnya.

Ema menyebut, ada tujuh mesin jahit yang rusak terendam banjir. Akibatnya, ia kehilangan pendapatan dan belum bisa bekerja lagi.

Kondisi Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung usai diterjang banjir, Selasa (2/12/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan

"Kerendam, mau dijemur gak ada panas tadi. Dibenerin kayaknya bisa, tapi kan perlu duit. Boro-boro, ada yang ngasih nasi rames tadi juga nggak ada," ucap Ema.

Ema mengatakan, usaha jahit itu merupakan pendapatan utama suaminya sambil ia bekerja sebagai asisten rumah tangga. Total pendapatan yang hilang, kata dia, sekitar Rp 200.000.

"Kalau enggak kerja mah ini, dari kemarin sama sekarang Rp 200.000 lebih hilang," kata Ema.

Sementara itu, ia harus membayar kontrakan dan listrik, serta membiayai anaknya yang masih sekolah.

"Kontrakan ini Rp 500.000, listrik Rp 200.000, belum bekal anak sekolah," kata Ema.

"Jadi ibu dari tadi merenung terus-terusan apalagi ini cuaca kayak gini takut terjadi lagi gitu," kesahnya.

Pikirannya kalut karena ia tidak mempunyai biaya untuk kehidupan sehari-hari selama mesin jahit itu belum bisa digunakan lagi.

"Biarin nanti aja beres-beres, cari duit dulu buat sehari-hari itu, buat makan, belum ada banget, belum ada bantuan," ucap dia.

Saat ini Ema berharap datangnya bantuan setidaknya berupa makanan karena 10 kilogram beras yang baru saja dibelinya telah terseret arus banjir.

"Beras enggak ketolong. Baru beli dua keresek, beli 10 kilo," ucap Ema.

"Ya pengin ada, dari donatur gitu, minta gimana lah, itu kan buat usaha. Minimal ngasih buat nyervis gitu, gak ngasih buat makan juga gitu. Kan berharap atuh neng bantuan. Saya yang kena dampaknya yang ngontrak," kata Ema.