Pimpinan DPRD Bantul soal Anggota Sebut Pemakaman COVID-19 Bak Anjing: Prihatin

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Ketua DPRD Bantul Subhan Nawawi. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua DPRD Bantul Subhan Nawawi. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pimpinan DPRD Bantul kecewa atas pernyataan anggotanya dari Partai Bulan Bintang, Supriyono yang menyebut pemakaman pasien COVID-19 seperti memakamkan kirik atau anjing. Pernyataan tersebut tersebar dari sebuah video berdurasi 30 detik.

"Selaku anggota dewan prihatin dengan pernyataan seperti itu. Artinya, pernyataan itu mestinya tidak dilakukan oleh pejabat publik. Kita bersama-sama mau menangani COVID-19. Tidak boleh meremehkan kepada siapa pun," kata Wakil Ketua DPRD Bantul Subhan Nawawi usai beraudiensi dengan relawan, Senin (22/2).

Dia membenarkan dalam audiensi dengan relawan tadi disepakati Supriyono harus segera meminta maaf kepada publik.

"Kami pimpinan sudah mencoba menelepon dan WA Pak Supri karena belum menjawab. Tadi ditelepon oleh Sekwan, katanya beliau masih di luar, di Purworejo atau di mana saya tidak tahu," ujarnya.

Sementara soal apakah Supriyono akan mendapatkan sanksi, Subhan masih akan menunggu klarifikasi Supriyono di hadapan Badan Kehormatan DPRD Bantul.

"Kami pimpinan pun nanti ini juga akan koordinasi dengan Badan Kehormatan untuk langkah karena tadi dari relawan minta 1x24 jam harus ada permohonan maaf," ujarnya.

Supriyono pun diminta segera menyampaikan permintaan maaf baik melalui media sosial maupun media massa.

"Ya mestinya lewat media massa. Lewat semua media," ujarnya.

Sebelumnya, Relawan di Kabupaten Bantul menggeruduk kantor DPRD Bantul, Senin (22/2). Kedatangan para relawan pemakaman corona itu merupakan buntut dari pernyataan anggota DPRD Bantul dari Partai Bulan Bintang, Supriyono.

Dalam video berdurasi 30 detik dia menyebut bahwa pemakaman COVID-19 adalah proyek semata. Dia juga mengatakan pemakaman pasien COVID-19 seperti memakamkan kirik atau anjing.

"Mati lan urip iku kagungane Gusti, ora opo-opo di-COVID-ke opo-opo di-COVID-ke. Bar operasi kanker payudara penyakit gula mulih di-COVID-ke. Njur le mendem kaya mendem kirik ... seko dinas kesehatan entuk proyek do sakpenake dewe (hidup dan mati itu punya Gusti, tidak ada apa-apa di-COVID-kan, apa-apa di-COVID-kan. Habis operasi kanker payudara penyakit gula pulang di-COVID-kan. Lalu nguburnya seperti ngubur anjing. Dari dinas kesehatan dapat proyek semaunya sendiri," katanya dalam video tersebut.