Poin-poin Cerita Eks Kapolsek di Garut Soal Perintah Menangkan Jokowi

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eks Kapolsek Pasirwangi Garut AKP Sulman Aziz didampingi Haris Azhar di kantor Lokataru, Rawamangun, Jakarta Timur. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Eks Kapolsek Pasirwangi Garut AKP Sulman Aziz didampingi Haris Azhar di kantor Lokataru, Rawamangun, Jakarta Timur. Foto: kumparan

Mantan Kapolsek Pasirwangi AKP Sulman Aziz bersuara soal pencopotan jabatannya. Dia mengaku dipindah tugaskan ke Polda Jawa Barat karena tidak menuruti atasannya, Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna, untuk memenangkan capres petahana Jokowi.

Pernyataan itu dilontarkan Sulman dalam konferensi pers di kantor Lokataru, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (31/3). kumparan merangkum cerita Sulman soal pencopotan jabatannya:

Merasa Mutasi Setelah Foto dengan Ulama Pendukung Prabowo

Sulman yang menjabat sebagai Kapolsek Pasirwangi dimutasi menjadi Kanit Seksi Penilangan Subditgakkum Ditlantas Polda Jawa Barat. Surat mutasi itu diterimanya pada Kamis (28/3).

Pemindahan lokasi tugas, dicurigai Sulman, karena beredar foto dirinya bersama seorang ulama pendukung Prabowo Subianto. Namun, dia membantah foto bersama itu sebagai bentuk dukungan kepada capres yang didukung tokoh agama tersebut.

Foto dengan seorang ulama itu, diakui Sulman, diambil pada 25 Februari 2019. Kala itu, dia sedang mengamankan deklarasi dukungan Prabowo-Sandi yang berlangsung di Pasirwangi.

"Saya saat itu hanya melaksanakan kegiatan sebagai kapolsek, memastikan acara di wilayah saya berjalan sesuai dengan ketentuan, kemudian saya berfoto sambil membuat laporan untuk melaporkan kepada kapolres bahwa saya berkoordinasi dengan panitia,"kata Sulman.

Belakangan foto itu dianggap Sulman mulai membawa masalah. Beberapa bawahannya dipanggil Direktorat Propam Polda Jawa Barat. Anggota Polsek Pasirwangi yang dipanggil mengaku kepada Sulman, ditanya soal kaitan atasannya dengan panitia acara deklarasi dukungan Prabowo-Sandi.

"Artinya dengan pertanyaan itu mereka mencurigai saya ada permainan dengan panitia dan melakukan penggalangan dengan kepala desa," sebut Sulman.

Merasa Dituduh Mengumpulkan Kepala Desa hingga Membiayai Deklarasi Prabowo-Sandi

Selain mengaku fotonya bersama seorang ulama pendukung Prabowo-Sandi jadi penyebab dirinya dimutasi, Sulman juga dituduh menggerakkan kepala desa di Pasirwangi untuk Pilpres 2019. Tudingan itu muncul karena Sulman pernah mengumpulkan kepala desa di Kecamatan tempat tugasnya.

Padahal, diakui Sulman, justru para kepala desa itu datang kepadanya untuk meminta perlindungan. Sejumlah kepala desa itu mengaku kepada Sulman dipanggil ke Polres Garut dan diarahkan untuk mendukung Jokowi-Ma'ruf.

"Tetapi situasi ini dibalik, seolah-olah saya yang mengumpulkan kepala desa untuk memberikan dukungan kepada nomor 2," sebut Sulman.

Sulman turut mendapat tuduhan telah membiayai deklarasi Prabowo-Sandi di Pasirwangi. Tudingan itu dianggap Sulman tidak berdasar.

"Kira-kira orang kecil seperti saya, bisa tidak mampu nggak membiayai?" tanya Sulman.

Dapat Perintah dari Kapolres Garut

Sebelum merasa fotonya dengan seorang ulama pendukung Prabowo-Sandi berujung dengan pemindahan tugas, Sulman mengaku pernah ditugaskan Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna untuk menggalang dukungan untuk Jokowi-Ma'ruf. Perintah itu disampaikan kepada seluruh Kapolsek di Garut pada Februari 2019.

Sulman mengatakan, perintah itu dilontarkan Budi Satria beberapa kali. Para kapolsek di Garut diminta mendata jumlah pendukung kedua capres dalam pemilu 2019 dan menggalang dukungan untuk Jokowi.

"Kami diancam kalau seandainya di wilayah tempat kami bertugas paslon nomor 1 kalah, kami akan dipindahkan dan dikotakkan (mutasi tanpa jabatan)," ujar Sulman.

Hanya saja, Sulman tidak tahu, perintah itu murni datang dari Budi Satria atau Budi Satria hanya meneruskan perintah. "Yang jelas saya diperintah beliau," katanya.

Tak Lapor ke Ditpropam Polda Jawa Barat

Sulman menyadari, perintah Budi Satria untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf adalah pelanggaran. Namun, Sulman tidak melaporkan atasannya ke Ditpropam Polda Jawa Barat. Dia merasa, sebagai bawahan, tidak adanya yang mau menghiraukan laporannya.

"Saya adalah seorang bawahan, siapa yang ingin dengar laporan saya," ujar Sulman.

Selain itu, ada muncul kabar Sulman memihak Prabowo-Sandi hingga sejumlah bawahannya diperiksa Ditpropam Polda Jawa Barat, membuatnya enggan melaporkan perintah Budi Satria.

Mengaku Netral

Terlepas dengan tudingan yang menyudutkannya dan perintah dari atasannya, Sulman mengaku tetap netral dalam Pilpres 2019. Dia bahkan mendorong para anggota Polri mau meneguhkan sikap netral, walau ada atasannya yang memihak.

"Kepada seluruh anggota polri yang pangkat tamtama bintara secapa dan SAG, saya mengajak kalian semua jangan pernah ada rasa takut untuk menolak setiap perintah yang salah," sebutnya.

"Saya punya prinsip, bahwa polisi netral. Tapi saya ingin katakan begini, bahwa indonesia yang kaya raya dan besar punya sumber daya alam yang besar. Kalau itu ingin dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak, tentu kepastian hukum Indonesia harus jelas," tambahnya.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna. Foto: kumparan

Dibantah Kapolres Garut

Sedangkan Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna membantah tudingan eks Kapolsek Pasirwangi AKP Sulman Aziz yang menyebut dirinya memerintahkan memenangkan Jokowi-Ma'ruf. Menurut Budi, apa yang disampaikan Sulman mengada-ngada.

"Saya tidak pernah mengarahkan sama sekali," ujar Budi, saat dihubungi kumparan, Minggu (31/3). "Itu sama sekali tudingan yang tidak berdasar."

Budi mengatakan apa yang disampaikan Sulman itu merupakan bentuk sakit hatinya karena dimutasi ke Polda Jawa Barat.

"Mungkin dia post power syndrome. Lama jadi Kasatlantas, Kapolsek lalu ke Polda Jabar," ujar dia.

Mutasi itu, kata Budi, dianggap Sulman atas perintahnya. Padahal, proses mutasi dilakukan Polda Jawa Barat.

"Saya mana bisa mutasi begitu. Itu kan mutasi ranahnya dari Polda Jabar. Saya seorang Kapolres mana bisa memutasi," ujar dia.

Budi mengatakan apa yang dilakukannya, dengan mengunjungi berbagai daerah di Garut, semata demi kepentingan keamanan dan ketertiban masyarakat. Budi membantah kunjungan-kunjungannya itu sebagai bentuk dari pengarahan masyarakat untuk memenangkan capres 01.