Polling kumparan: 89,49% Pembaca Pernah Beli Obat Tanpa Resep Dokter

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Apoteker memilah obat sesuai resep. Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Apoteker memilah obat sesuai resep. Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Sebanyak 89,49 persen atau 349 pembaca kumparan mengaku pernah membeli obat tanpa resep dokter. Angka ini merupakan hasil polling kumparan yang dilakukan pada 15-22 September 2026.

Selain itu, sebanyak 16,51 persen atau 41 pembaca mengaku tak pernah membeli obat tanpa resep dari dokter.

embed from external kumparan

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hampir separuh dari total belanja obat masyarakat Indonesia dihabiskan untuk membeli obat modern tanpa resep dokter.

Fenomena swamedikasi ini menunjukkan bahwa keputusan penggunaan obat harian sebagian besar berada mandiri di tangan konsumen, sehingga menuntut adanya jaminan pengawasan mutu yang ketat di tingkat peredaran.

Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengungkapkan perilaku pengobatan mandiri tersebut menjadi potret penting dalam pola konsumsi kesehatan warga di tengah tingkat morbiditas nasional yang menyentuh angka 12,66 persen pada 2025.

“Kalau kita perhatikan lagi, kami ingin menyampaikan bahwa tadi sudah, dari proporsi pengeluaran kesehatan untuk obat, 47,18% digunakan untuk membeli obat modern tanpa resep dari tenaga kesehatan,” ujar Sonny dalam sambutannya pada Forum Menenun Kebijakan di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Senin (14/9).

"Angka ini menggambarkan keputusan masyarakat dalam menggunakan obat cukup banyak berada di tangan konsumen sendiri,” lanjutnya.

Rilis peredaran obat keras tanpa label yang dibongkar Polda Metro Jaya, Selasa (26/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

Sonny memaparkan bahwa tren masyarakat yang memilih berobat sendiri sebenarnya menunjukkan kecenderungan penurunan, yakni dari 84,23 persen menjadi 78,43 persen, seiring membaiknya akses ke fasilitas kesehatan.

Kendati demikian, kebiasaan membeli obat bebas di pasaran masih mendominasi pengeluaran kesehatan rumah tangga.

“Jadi kalau sakit itu, ternyata 47% masyarakat Indonesia yang sakit memilih untuk membeli obat-obatan sendiri dibanding apa namanya, mengacu pada resep,” jelas Sonny.

Menurutnya, tingginya angka belanja obat mandiri serta alokasi sekitar 20 persen pengeluaran bulanan warga untuk makanan jadi menempatkan BPOM pada posisi yang kian krusial. Rasa aman masyarakat dalam mengkonsumsi produk bebas sangat bertumpu pada integritas sertifikasi dan izin edar yang diterbitkan lembaga pengawas.