Polling: Seberapa Yakin Kamu Bisa Membedakan Konten AI di Media Sosial?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi deepfake. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi deepfake. Foto: Shutterstock

Akhir-akhir ini, sering ditemukan konten buatan Artificial Intelligence (AI) di media sosial yang dapat memicu disinformasi. Terlebih lagi hadirnya teknologi AI deepfake yang memungkinkan pemalsuan sebuah video atau foto. Keberadaan deepfake membuat batas antara yang nyata dan yang palsu semakin kabur.

Video seseorang yang berbicara di depan kamera tak lagi bisa dijadikan jaminan kebenaran karena teknologi deepfake memungkinkan wajah, suara, dan ekspresi seseorang dipalsukan dengan sangat meyakinkan.

Barang bukti ditunjukkan pada konferensi pers pengungkapan penipuan dengan deepfake AI yang mengatasnamakan pejabat negara oleh Dittipidsiber Bareskrim Polri pada Kamis (23/1/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Deepfake layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan inovasi dan manfaat melalui kecanggihan artificial intelligence (AI), membuka peluang besar dalam berbagai bidang seperti hiburan, pendidikan, dan riset. Namun, di sisi lain, deepfake juga membawa risiko dan ancaman yang dapat mengaburkan realitas, termasuk pencemaran nama baik.

Selain deepfake, AI generative seperti ChatGPT maupun Gemini juga dapat melakukan generate gambar maupun video. Misalnya, pengguna dapat memasukkan prompt "buatkan gambar suasana kebakaran besar di rumah (orang penting)" atau "buatkan gambar bergerak seorang penjual gorengan berbahan dasar bahan bangunan". Kemudian, hasil gambar dari prompt tersebut disebar ke media sosial yang dapat memicu disinformasi di masyarakat.

Dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, produksi konten AI bisa dilakukan hampir semua orang dengan biaya yang relatif rendah.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan keterangan kepada wartawan usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (13/1/2025). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Menanggapi masifnya penggunaan AI di Indonesia, Kemkomdigi akan meluncurkan Roadmap atau peta jalan AI pada bulan Juni ini. Roadmap ini diharapkan bisa diturunkan menjadi regulasi dalam penggunaan AI di Indonesia.

"Jadi mohon bersabar, Juni InsyaAllah roadmap-nya keluar, kemudian dari situ kita akan turunkan ke dalam bentuk regulasi AI," ujar Meutya Hafid, Menkomdigi, di sela acara peluncuran LLM Sahabat AI Model 70B di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (2/6).

Meutya mengatakan pihaknya masih berdiskusi dengan pemangku kepentingan untuk memastikan roadmap AI disusun secara komprehensif. Ia juga mengatakan diskusi tersebut sangat dinamis dengan masukan-masukan baru, mengingat teknologi AI terus bergerak setiap saat.

"Jadi kami sedang mendengarkan, memberikan waktu sedikit lagi untuk masukan-masukan dari para stakeholders untuk kemudian nanti membuat sebuah regulasi yang komprehensif," ujar Meutya.

Lantas, seberapa yakin kamu bisa membedakan konten AI di media sosial? Sampaikan jawaban kamu dalam polling kumparan di bawah ini. Berikan juga pendapat kamu dalam kolom komentar.

Penulis: Muhammad Falah Nafis

Seberapa Yakin Kamu Bisa Membedakan Konten AI di Media Sosial?

  • Sangat Yakin
    23.60%
  • Yakin
    29.57%
  • Ragu-ragu
    35.83%
  • Tidak Yakin
    9.10%
  • Sangat Tidak Yakin
    1.90%

1055 Pemilih · Polling telah berakhir