Prabowo Beli Rafale Dinilai sebagai Upaya Hindari Ketergantungan Satu Produsen

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto membeli 42 pesawat tempur Dassault Rafale buatan Prancis. 6 Pesawat sudah ditandatangani MoU pembeliannya di hadapan Menhan Prancis.
Pembelian pesawat tempur memang menjadi salah satu perhatian. Sebab, Prabowo sebenarnya punya banyak pilihan, seperti SU-35 atau F-35. Belum lagi ancaman sanksi Amerika Serikat bila ada negara yang membeli Alutsista Rusia.
Analis Utama LAB 45, Andi Widjajanto, mengatakan keputusan Prabowo ini merupakan salah satu cara Indonesia menghindari ketergantungan terhadap satu produsen alutsista. Terlebih saat ini belum semua alutsista bisa diproduksi sendiri.
"Idealnya, Indonesia bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan alutsistanya. Karena ini belum bisa dilakukan, strategi transisi yang diterapkan adalah counter dependent untuk mencegah adanya ketergantungan mutlak Indonesia ke satu produsen global saja," ujar Andi saat dihubungi kumparan, Jumat (11/2).
Indonesia memang tengah menyelesaikan Rencana Strategis (Renstra) 2024 untuk memenuhi minimum essential force (MEF). Salah satunya pembangunan 12 skadron udara tempur baru yang diisi pesawat generasi 4, 4.5, dan 5.
Kehadiran Rafale, kata Andi, semakin menunjukkan tidak adanya ketergantungan Indonesia pada satu produsen saja.
"Untuk skuadron tempur, ketergantungan itu tidak ada dengan adanya pesawat tempur F-16, Hawk, SU 27-30, dan Rafale," ungkap Andi.
Eks Seskab Jokowi ini menyebut, secara kemampuan, Rafale relatif sebanding dengan sejumlah pesawat tempur yang diincar Prabowo. Perbedaan teknis bisa muncul pada spesifikasi lebih detail dan pesawat tempur.
"Rafale berada di kelas yang sama dengan SU 30, F-15 EX, F1-6 Viper, Eurofighter Typhoon, dan Chengdu J-10 yang merupakan pesawat tempur generasi 4.5. Perbedaan teknis bisa muncul tergantung dari spesifikasi mesin (tunggal atau kembar), avionik, navigasi, radar intersection, kemampuan muat (load) amunisi, yang akan berpengaruh ke misi taktis yang akan dijalankan," ucap dia.
