Pratikno Soal Marak Aksi Premanisme: Pendidikan Berperan Lahirkan Orang Bermoral
·waktu baca 2 menit

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno merespons soal maraknya aksi premanisme yang kini kerap berkedok organisasi masyarakat (ormas) dan mengganggu aktivitas ekonomi serta perizinan usaha.
Menanggapi hal itu, ia menekankan pentingnya peran pendidikan dalam membentuk karakter generasi bangsa. Pratikno menjelaskan meskipun isu ekonomi dan keamanan bukan merupakan ranah Kemenko PMK secara langsung, pihaknya memiliki tanggung jawab besar dalam hal pendidikan dan kepemudaan.
“Ya kalau kami dari sisi kami adalah kami yang bertanggung jawab terkait dengan ini kan pendidikan dan pemuda olahraga. Jadi pendidikan dan kepemudaan. Maka konsentrasi kami adalah sekali lagi bagaimana instrumen pendidikan itu memperkokoh pendidikan, karakter, toleransi, gotong royong, di situ,” ujar Pratikno di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (19/5).
Menurutnya, pendidikan harus lebih dari sekadar mencetak individu yang cerdas dan kompeten secara intelektual. Lebih dari itu, sistem pendidikan nasional harus mampu mencetak manusia yang utuh dan berintegritas.
“Tapi kalau kaitannya dengan ekonomi, kaitannya dengan keamanan itu adalah tanggung jawab dari Kemenko lain. Tapi kami sekali lagi bahwa pendidikan bukan hanya melahirkan orang yang kompeten, orang yang cerdas, tetapi harus sehat baik secara fisik, secara mental, secara moral. Itu yang fondasi yang menjadi tanggung jawab kami,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi menjelaskan alasan pemberantasan premanisme yang belum menyentuh organisasi masyarakat (ormas).
Ia menjelaskan, pemerintah ingin mengatasi terlebih dahulu tindakan premanisme yang mengganggu proses bisnis. Menurutnya, itu juga yang membuat investor takut untuk menanamkan modalnya karena ada beban biaya tambahan.
“Jadi kalau pertanyaannya kenapa tidak menyentuh ormas, yang ingin diatasi dan dihilangkan oleh pemerintah adalah aksi premanisme. Tindakan premanisme,” kata Hasan Nasbi kepada wartawan, di Cemara 6 Galeri, Teotri Heraty Museum, Jakarta Pusat, Sabtu (17/5).
“Terutama yang awalnya nih ya yang mengganggu proses bisnis. Jadi investor takut masuk ke kita. Orang-orang ingin berusaha itu takut untuk berusaha di kita karena ada biaya-biaya tambahan dan beban-beban tambahan akibat aksi dan ulah premanisme,” sambung dia.
