Pria Mengaku Hacker Bjorka Akui Jual Data Nasabah Bank karena Faktor Ekonomi
·waktu baca 2 menit

Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya mengungkap motif WFT (22) pemuda yang mengaku hacker Bjorka dan mengeklaim memiliki data 4,9 juta nasabah bank swasta.
Polisi menyebut, motif pelaku adalah masalah ekonomi, meski sejauh ini pemerasan yang direncanakan belum terjadi.
“Motivasinya masalah uang. Jadi motifnya masalah kebutuhan. Segala sesuatu yang dikerjakan sementara yang kita temukan adalah untuk mencari uang,” kata Kasubdit IV Ditsiber Polda Metro Jaya AKBP Herman Edco dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Kamis (2/10).
Hanya Lulusan SMK
Wadirsiber Polda Metro Jaya AKBP Fian Yunus menambahkan, latar belakang WFT ternyata bukan seorang ahli komputer.
“Yang bersangkutan ini bukan ahli IT, hanya orang yang tidak lulus SMK. Namun sehari-hari secara otodidak dia selalu mempelajari IT, melalui komunitas-komunitas media sosial,” ujar Fian.
Polisi mendapati bahwa sejak 2020, WFT aktif di forum dark web dan mulai menjual data-data pribadi. Pengakuannya, sekali menjual data ia bisa mendapat bayaran puluhan juta rupiah dalam bentuk cryptocurrency.
“Hasil pendalaman dari pemeriksaan yang kita lakukan terhadap tersangka bahwa yang bersangkutan ini sudah melakukan aktivitas di media sosial dan mengaku sebagai Bjorka sejak tahun 2020,” ujar Kasubdit IV Ditseber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco.
Kasus ini kembali menyeret nama Bjorka yang sempat bikin heboh Indonesia pada 2022. Kala itu, hacker anonim itu menyebarkan data pribadi pejabat hingga dokumen rahasia negara. Presiden Jokowi bahkan membentuk tim tanggap darurat yang terdiri dari BSSN, Kominfo, Polri, dan BIN untuk memburu Bjorka.
Polri sempat menangkap pemuda asal Madiun, Muhammad Agung Hidayatullah (21), yang diduga Bjorka. Namun belakangan terungkap bahwa ia hanya pembuat channel Telegram untuk memuat unggahan Bjorka.
Kini, meski WFT mengaku sebagai Bjorka, polisi masih mendalami peran dan motifnya lebih jauh.
“Kami sampaikan juga pengembangan dari perkara ini yang masih kita telusuri,” ujar herman.
