Pria yang Laporkan Istri karena Perkara Mabuk Disidang Atas Kasus Anak
·waktu baca 4 menit

Kasus pelik antara Valencya dan mantan suaminya Chan Yu Ching (CYC) di Karawang semakin pelik. Keduanya saling melaporkan ke polisi dan berujung ke meja hijau di Pengadilan Negeri Karawang.
Valencya, dilaporkan Chan saat mereka masih menjadi pasangan suami-istri ke Polda Jabar atas dugaan KDRT yang berdampak pada psikisnya.
Laporan itu kemudian berujung pada tuntutan terhadap Valencya oleh jaksa dalam sidang yang digelar pada Kamis pekan lalu di PN Karawang. Dalam sidang itu, jaksa Glendy Rivano, menuntut Valencya 1 tahun penjara. Tuntutan itu kemudian menuai sorotan hingga langsung dari Kejaksaan Agung.
Kejagung kemudian mengeksaminasi tuntutan itu dan merombak semua jaksa yang menangani kasus Valencya.
Sedianya, hari ini, Selasa (16/11), Chan juga akan menghadapi sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Karawang. Kasus yang menjerat Chan ini bermula dari laporan Valencya ke Polres Karawang pada Desember 2020 atau dua bulan setelah Chan melaporkan Valencya atas dugaan KDRT itu ke Polda Jabar.
Chan melaporkan Valencya ke Polda Jabar pada September 2020. Nomor laporannya pada saat itu LPB/844/VII/2020. CYC pada saat itu melaporkan V atas dugaan pengusiran dan KDRT dalam rentang waktu 2019-2020 sehingga membuat psikisnya terganggu.
Balik lagi ke soal jadwal sidang tuntutan Chan atas dugaan penelantaran terhadap dua anaknya yang harusnya digelar di PN Karawang hari ini, ditunda.
Jaksa yang diwakili oleh Akmal Muhajir dari Kejaksaan Negeri Karawang meminta pertambahan waktu kepada majelis hakim.
Sidang hari ini dihadiri Chan sebagai terlapor, dan kuasa hukumnya Bernard Nainggolan.
Kepada Majelis Hakim, jaksa Akmal menyatakan ketidaksiapan dalam menyusun berkas tuntutan. Ketidaksiapan jaksa bukan kali ini saja terjadi. Seminggu sebelumnya, jaksa juga menyatakan belum siap memberikan tuntutan kepada Chan.
“Jaksa Penuntut Umum belum siap, yang mulia,” kata Akmal.
Majelis Hakim mengingatkan jasa agar secepatnya melakukan tuntutan, atau kalau tidak, majelis hakim akan mengambil sikap.
Akhirnya, sidang yang berjalan kurang dari 15 menit tersebut ditutup dengan keputusan pembacaan tuntutan ditunda sampai sidang selanjutnya pada Selasa (23/11).
“Kami ingatkan JPU (Jaksa Penuntut Umum) agar segera melakukan tuntutan. Ini sudah kedua kali tuntutan belum siap. Kalau sampai berulang tidak melakukan tuntutan berarti saudara tidak yakin dengan perkara saudara. Kami akan melakukan sikap kalau saudara tidak melakukan tuntutan. Agar saudara memperhatikan,” kata Ismail Gunawan, hakim yang memimpin jalannya persidangan.
Usai sidang, dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, Chan mengatakan tidak benar ia menelantarkan anak dan istri.
“Sampai itu bilang saya jangan ketemu anak. Sisa itu (selanjutnya), pengacara saya (yang bicara), saya mohon (maaf) bahasa kurangan saja,” kata Chan kepada wartawan.
Kuasa hukum Chan, Bernard Nainggolan mengatakan kalau kliennya tiga kali mengirim uang ke anak hasil pernikahan Chan dengan Valencya.
“Sejak keluar dari rumah bulan Februari 2019, Chan kirim uang tiga kali. Dua kali (senilai) Rp 10 juta, satu kali Rp 30 juta. Tapi semua uangnya dikembalikan oleh ibu Valencya ke rekening Chan.”
Chan juga dipersulit untuk bertemu anak-anaknya. Bahkan sempat dilarang. Chan sempat sembunyi-sembunyi menemui anaknya di sekolah.
Bernard juga membantah kalau kliennya kerap pulang ke rumah sambil mabuk. Sepengakuan Chan, dia tidak pernah mabuk.
Marahnya Valencya kepada Chan bukan dipicu oleh mabuk. Melainkan karena persoalan keuangan. Diketahui, keduanya memang punya usaha bersama.
“Apa yang disampaikan Valencya kemarin bahwa dia dituntut karena marah-marah itu sebenarnya tidak tepat. (Kebenarannya) Chan selaku suaminya diusir dari rumah. Ada rekaman percakapannya, lewat telepon Valencya marah-marah sambil maki-maki.”
Bernard mengeklaim punya bukti pengusiran yang dilakukan oleh Valencya.
“Kami sudah sampaikan di pengadilan, ada bukti percakapan. Valencya kira-kira mengatakan: 'lu keluar dari rumah ini jangan pulang lagi, jangan sampai gue liat muka lu di rumah ini.”
Perlakuan Valencya terhadap Chan diklaim berbuntut pada gangguan psikis. Bernard mengaku Chan ketakutan dan sedih. Sebenarnya, kata Bernard, Chan sudah menawarkan upaya mediasi. Namun upaya mediasi selalu menemui jalan buntu.
