Prof Wiku: Bali Bisa Jadi Model untuk Kembali Buka Pariwisata

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung ada juga yang tak gunakan masker di Pantai Kuta Bali. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung ada juga yang tak gunakan masker di Pantai Kuta Bali. Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Pemerintah Bali memutuskan kembali membuka pariwisata untuk wisatawan domestik di tengah wabah corona yang belum berakhir. Sementara bagi wisatawan asing akan ditunda sampai akhir 2020.

Keputusan ini dipertanyakan sejumlah pihak, karena dirasa pandemi corona belum cukup aman untuk kembali membuka pariwisata. Namun, keputusan ini dianggap tidak bermasalah bagi Satgas COVID-19.

Juru bicara Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, membela pemerintah karena pembukaan sudah melalui pengkajian dan riset dari kasus corona yang ada di Bali. Berdasarkan data, rata-rata penularan di Pulau Dewata itu berada di bawah angka nasional.

Prof. Wiku Adisasmito. Foto: Dok. BNPB

"Meski meningkat (kasusnya), angka kematian akibat COVID-19 di Bali masih yang paling rendah. Angkanya adalah 1,15 persen kematian per kasus, sementara angka nasional mencapai 4,2 persen, sedangkan angka global mencapai 3,4 persen. Ini data yang riil," kata Wiku saat sesi tanya jawab virtual dengan media asing, Jumat (28/8).

Tak hanya itu, tingkat kesembuhan di Bali juga tinggi, yakni 87,96 persen. Sementara, rata-rata kesembuhan nasional hanya di angka 72 persen.

Dengan prestasi penanganan corona tersebut, Wiku menilai Bali justru bisa menjadi model bagi provinsi lainnya di Indonesia, bahkan dunia.

Pengunjung Pantai Kuta Bali yang tetap gunakan masker. Foto: Denita BR Matondang/kumparan

"Pemerintah Bali bisa jadi model untuk membuka kembali pariwisata, karena mereka bisa mengatur situasinya. Bahkan sebelum gugus tugas nasional dibentuk, Bali sudah membentuk gugus tugas mereka," jelas Wiku.

Wiku mengapresiasi kinerja Gugus Tugas Bali yang sudah bekerja cepat dan efisien. Selain tenaga kesehatan, mereka juga melibatkan masyarakat termasuk pecalang untuk melakukan contact tracing.

kumparan post embed

Bahkan, para pecalang juga ikut inspeksi dan meniadakan sementara kegiatan ritual adat yang berpotensi menimbulkan kerumunan.

"Mereka menutup permainan berbasis kebudayaan, seperti sabung ayam, karena berpotensi membentuk kerumunan. Selain itu, mereka juga mengubah kebiasaan masyarakat lebih patuh pada protokol kesehatan," tutup Wiku.

embed from external kumparan

=====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona