Putin Geram UE Tolak Pakai Vaksin Sputnik V: Kepentingan Siapa yang Kalian Bela?

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Rusia, Vladimir Putin. Foto: Sputnik/Aleksey Nikolskyi/Kremlin via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Rusia, Vladimir Putin. Foto: Sputnik/Aleksey Nikolskyi/Kremlin via REUTERS

Presiden Rusia Vladimir Putin menanggapi pernyataan Komisaris Pasar Internal Uni Eropa (UE) Thierry Breton terkait vaksin Sputnik V.

Breton menyebut, UE tidak memerlukan vaksin Sputnik V untuk melawan COVID-19 dan dapat mencapai kekebalan di seluruh benua menggunakan vaksin produksi Eropa.

Putin mengatakan, pernyataan itu jelas aneh dan bertentangan dengan kepentingan warga Uni Eropa.

"Itu pernyataan yang aneh. Kami tidak memaksakan apa pun pada siapa pun," kata Putin dikutip dari Reuters, Selasa (23/3).

“Ini menimbulkan pertanyaan, kepentingan siapa yang dipertahankan dan diwakili oleh orang-orang ini? Kepentingan beberapa perusahaan farmasi atau kepentingan warga negara Eropa?" lanjut Putin.

Vaksin Sputnik V yang sudah dikemas di fasilitas perusahaan bioteknologi BIOCAD di Saint Petersburg, Rusia. Foto: Anton Vaganov/Reuters

Perwakilan European Medicines Agency (EMA), rencananya akan mengunjungi Rusia bulan depan untuk meninjau vaksin Sputnik V. Namun, beberapa pejabat Eropa mempertanyakan apakah diperlukan vaksin itu.

Seorang pejabat EMA mendesak anggota UE menahan diri dan menyetujui Sputnik V di tingkat nasional.

"Putin juga melakukan panggilan telepon dengan Presiden Dewan Eropa Charles Michel untuk membahas kemungkinan penggunaan vaksin Sputnik V melawan COVID-19," kata Kremlin.

kumparan post embed

Beberapa waktu lalu, Michel sempat meragukan motif Rusia mempromosikan Sputnik V di luar negeri. Ia menyebut Rusia melakukan operasi terbatas.

"Putin mengatakan kepada Michel bahwa Rusia siap untuk melanjutkan kerja sama dengan blok perdagangan tetapi hubungan tersebut saat ini tidak memuaskan karena kebijakan konfrontatif dan tidak konstruktif UE, kata Kremlin.