PVMBG Pastikan Tak Ada Potensi Tsunami dari Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati memastikan status aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga.
Ia menyebut, PVMBG melakukan pemantauan aktivitas Anak Krakatau melalui dua stasiun pengamatan yang berada di Pasauran dan Kalianda.
"Untuk khusus Anak Krakatau ini kami memiliki dua stasiun pengamatan, yang ada di Pasauran dan juga yang ada di Kalianda," ujar Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9).
Rita mengatakan sejak tanggal 2 Juli 2026, status Gunung Anak Krakatau statusnya dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga.
"Gunung Anak Krakatau ini erupsi di tanggal 2 Juli 2026, sehingga levelnya juga kita naikkan dari Waspada menjadi Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026," katanya.
Rita menyebut, PVMBG memastikan pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi dan longsoran pada 2018 masih relatif kecil.
Karena itu, hingga saat ini tidak terdapat potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami.
"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ujar Rita.
PVMBG tetap melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas serta perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Warga di sekitar gunung diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar hingga hujan abu lebat.
