PVMBG Ungkap Tidak Ada Lagi Guguran Awan Panas di Semeru

21 November 2025 20:58 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Priatin Hadi Wijaya di Museum Geologi, Bandung, Jumat (21/11/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Priatin Hadi Wijaya di Museum Geologi, Bandung, Jumat (21/11/2025). Foto: Linda Lestari/kumparan
ADVERTISEMENT
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Priatin Hadi Wijaya, mengatakan saat ini tidak ada lagi guguran awan panas di Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Hadi menyebut, guguran awan panas hanya terjadi pada 2 hari sejak gunung tersebut erupsi.
ADVERTISEMENT
"Jadi guguran awan panas terjadi dalam 2 hari. Hari pertama selama 4 jam, kemudian hari kedua relatif di bawah 1 jam dan hari ini sudah tidak ada lagi guguran panas," kata Hadi di Gedung PVMBG, Bandung, Jumat (21/11).
Kondisi Dusun Kamar A, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, usai diterjang erupsi Gunung Semeru, Jumat (21/11/2025). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
Meski begitu, PVMBG masih mencatat ada 36 hingga 45 kali erupsi. Hadi mengatakan, erupsi ini menandakan masih adanya material vulkanik di sekitar kawah Semeru.
"Memang terkait dengan erupsi itu masih tinggi tadi antara 36 sampai 45 kali artinya bahwa erupsi itu menandakan material vulkanik masih ada di sekitar dari kawah gunung Semeru," ucap Hadi.
Kendaraan melintasi jembatan Besuk Kobokan yang terdampak asap letusan sekunder di Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (21/11/2025). Foto: Irfan Sumanjaya/ANTARA FOTO
Hadi meminta masyarakat waspada, sebab, meski tak ada awan panas, potensi bahaya masih mengintai dalam bentuk lahar dingin. Masyarakat diimbau untuk tetap siaga pada jarak 20 kilometer dari arah sektoral tenggara-selatan dan radius 8 kilometer.
ADVERTISEMENT
"Kita harapkan lahar dingin yang nanti akan terjadi tetap terkendali sesuai dengan rekomendasi kami, tidak boleh ada aktivitas manusia 20 kilometer dari arah sektoral tenggara ke selatan. Sedangkan radius kami harapkan masyarakat tidak ada di 8 kilometer karena kemungkinan terjadi lemparan batu pijar," ujar Hadi.
Sebelumnya, gunung Semeru erupsi sehingga menimbulkan awan panas dan guguran pada Rabu (19/11) pukul 14.13 WIB. Imbas peristiwa itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan status tanggap darurat untuk kawasan Lumajang selama 7 hari terhitung mulai 19 November hingga 26 November 2025.