Raja Salman Hubungi Trump: Palestina Tak Merdeka, Tak Ada Damai dengan Israel

kumparanNEWSverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
13
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Raja Salman berlibur di Kota NEOM, Arab Saudi, Agustus 2020. Foto: Kemlu Arab Saudi
zoom-in-whitePerbesar
Raja Salman berlibur di Kota NEOM, Arab Saudi, Agustus 2020. Foto: Kemlu Arab Saudi

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz atau Raja Salman menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui sambungan telepon.

Pembicaraan itu dilakukan setelah Uni Emirat Arab memutuskan berdamai dengan Israel. Donald Trump menjadi penengah dalam upaya perdamaian itu.

Dikutip dari Reuters, Senin (7/9), Raja Salman dengan tegas mengatakan tidak akan ada perdamaian dengan Israel tanpa kemerdekaan Palestina.

Donald Trump dan Raja Salman Foto: REUTERS/Jonathan Ernst

Raja Salman menambahkan jika dirinya menghargai atas segala upaya AS dalam mendukung perdamaian negara Timur Tengah dengan Israel.

Namun Arab Saudi ingin melihat solusi yang adil dan permanen terhadap Palestina berdasarkan Inisiatif Perdamaian Arab yang diusulkan kerajaan pada 2002.

Dalam kesepakatan itu, Arab Saudi menawarkan perdamaian dengan Israel. Tetapi ada kesepakatan yang harus dilakukan yakni pengakuan negara Palestina dan penarikan penuh tentara Israel dari sana.

Hingga saat ini, Arab Saudi tidak mengakui keberadaan Israel. Begitu juga dengan Israel yang tidak mengakui Palestina.

kumparan post embed

Sementara penasihat Gedung Putih, Jared Kushner, berharap negara Timur Tengah lainnya mau berdamai dengan Israel seperti yang sudah dilakukan UEA. Namun hingga saat ini belum ada negara lain yang mempertimbangkan hal itu.

Sebelumnya Israel dan Uni Emirat Arab mengumumkan mereka sepakat untuk berdamai dan memperbaiki hubungan antara kedua negara yang selama ini bersitegang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi penengah dalam langkah perdamaian ini. Perjanjian damai antara Israel dan UEA itu kemudian dinamai Abraham Accords.

***

Saksikan video menarik di bawah ini.