Ramos-Horta Pimpin Perolehan Suara Sementara Pilpres Timor Leste Putaran Kedua
ยทwaktu baca 2 menit

Sebanyak tiga perempat suara putaran kedua pilpres Timor Leste telah dihitung. Sejauh ini, Jose Ramos-Horta memimpin perolehan suara.
Pada putaran pertama, Ramos-Horta berhasil menduduki posisi pertama 46,5% suara. Sementara presiden petahana Francisco "Lu Olo" Guterres berada di posisi kedua dengan 22,1% suara.
Mengutip Reuters, keduanya maju ke putaran kedua pada Selasa (19/4/2022) karena tidak ada kandidat yang berhasil mengamankan lebih dari 50% suara.
Menurut data dari lembaga penyelenggara pemilu, dari 75% suara putaran kedua yang sudah dihitung, Ramos-Horta berhasil mengantongi 62,09% suara. Sementara, sebanyak 37,91% suara diberikan kepada Presiden petahana Francisco "Lu Olo" Guterres.
Ramos-Horta adalah salah satu tokoh politik paling terkenal di Timor Leste. Pria berusia 72 tahun ini sebelumnya pernah menjabat sebagai menteri luar negeri, perdana menteri, dan kemudian presiden kedua negara itu, dari 2007 hingga 2012.
Dia menerima Penghargaan Nobel pada tahun 1996 atas usahanya untuk membawa resolusi damai bagi perang gerilya di Timor Leste melawan Indonesia pasca-penjajahan Portugis.
Setelah memberikan suara di dekat rumahnya di Ibu Kota Dili, Ramos-Horta mengatakan dia sangat percaya diri akan menang. Namun, ia akan menerima hasil apa pun dengan lapang dada.
Seorang akademisi Australia menghitung bahwa Ramos-Horta hanya membutuhkan 30.000 suara tambahan untuk mengamankan kemenangan di putaran final pilpres ini.
Mengembalikan Stabilitas Negara
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat ketegangan politik antara partai-partai besar di Timor Leste. Pemilihan ini dipandang oleh berbagai pihak sebagai instrumen penting untuk mengembalikan stabilitas negara.
Ramos-Horta telah mengisyaratkan akan menggunakan wewenangnya sebagai presiden untuk membubarkan parlemen dan memajukan pemilihan umum yang dijadwalkan tahun depan apabila ia memenangkan pilpres ini.
Presiden pertama Timor Leste, Xanana Gusmao, mendukung Ramos-Horta dalam pemilihan ini. Gusmao menyebut situasi pemerintah saat ini tidak sah secara konstitusional.
Pada tahun 2018, presiden petahana Lu Olo menolak untuk melantik sejumlah menteri terpilih dari partai politik Gusmao atas alasan penyelidikan hukum terhadap mereka, termasuk dugaan korupsi.
Presiden Timor Leste berikutnya akan dilantik pada 20 Mei 2022, bertepatan dengan peringatan 20 tahun pemulihan kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia.
Ditulis oleh: Airin Sukono
