kumparan
14 Oktober 2019 15:03

Rapat dengan JK, Menkes Ingin Kementerian Lain Turut Tangani Stunting

Rakor penanganan stunting di Kantor Wakil Presiden
Rapat koordinasi penanganan stunting di Kantor Wakil Presiden, Senin (14/10/2019). Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menggelar rapat koordinasi penanganan stunting atau kekerdilan akibat gizi buruk bersama Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek. Hadir dalam kesempatan itu, Menkominfo Rudiantara hingga Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo.
ADVERTISEMENT
Nila mengatakan, dalam rapat tersebut dibahas penurunan angka stunting. Untuk merealisasikan rencana itu, ia berharap ada kerja sama lintas kementerian, sebab penanganannya tak bisa hanya dilakukan oleh Kemenkes saja.
"Kalau kita lihat tadi (persoalan) usia perkawinan dini ini apakah urusan Kemenkes Kesehatan atau urusan yang lain? Itu satu, yang kedua misalnya juga cacingan, kenapa ibu ini cacingan akhirnya kekurangan energi kronis, tidak ada akses air bersih," kata Nila di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, Senin (14/10).
Rakor penanganan stunting di Kantor Wakil Presiden
Menteri Kesehatan, Nila Moeloek (kedua kiri) hadiri rapat koordinasi penanganan stunting di Kantor Wakil Presiden, Senin (14/10/2019). Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Nila mengatakan kerja sama tersebut misalnya pembangunan sistem air bersih hingga sarana sanitasi untuk masyarakat. Hal itu hanya bisa dikerjakan oleh Kementerian PUPR.
"PUPR di sini harus bekerja, jadi tak ada jamban, juga harus bekerja. Ujungnya nanti ini anak ini kurang gizi, ibunya kurang gizi, akhirnya penyakit dan sebagainya ini stunting," lanjut dia.
Ilustrasi anak stunting.
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock
Pihaknya juga bekerja sama dengan Kominfo dan Kementerian Desa PDTT berupa pembuatan aplikasi untuk menjaring data keluarga. Data yang dijaring dari aplikasi itu nantinya akan dipakai Kemenkes sebagai acuan untuk penanganan stunting, sehingga tepat sasaran.
ADVERTISEMENT
"Data ini nanti di link-kan dengan Kemenkes. Kemenkes harus melakukan intervensi, jadi kalau anak kita lihat grafiknya sudah mulai turun, dan mengejar waktu sebelum usia 2 tahun kita harus kejar dengan kita memberikan sesuatu yang meningkatkan gizi anak itu," kata Nila.
Dengan adanya kerja sama itu, Nila menargetkan angka stunting di Indonesia bisa turun hingga di bawah 30 persen. Sebagai catatan, pada 2018, persentase stunting anak di bawah 5 tahun akibat gizi buruk mencapai 30,8 persen.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan