Rapid Test Antigen Buatan Indonesia Diklaim Memiliki Sensitivitas 90%

kumparanNEWSverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rapid test antigen produksi Indonesia. Foto: GenBody
zoom-in-whitePerbesar
Rapid test antigen produksi Indonesia. Foto: GenBody

Rapid test menjadi salah satu cara untuk mengetahui apakah tubuh kita terjangkit virus corona. Meskipun dinilai kurang akurat, namun terdapat jenis rapid test yang dinilai lebih akurat dari yang biasa digunakan, yakni rapid test antigen.

PT GenBody Indonesia merupakan perusahaan yang memproduksi alat rapid test antigen yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan ini sudah memproduksi alat rapid test antigen untuk COVID-19 sejak bulan Agustus 2020 lalu.

“Produksi perdana yaitu pada tanggal 17 Agustus 2020, sekalligus sebagai peringatan Kemerdekaan RI yang ke-75. GenBody Indonesia mulai memproduksi tes antigen COVID-19 secara massal pada awal bulan September 2020,” ucap General Manager PT GenBody Indonesia, Muhammad Bagir, kepada kumparan, Jumat (2/9).

Bagir juga menjelaskan bahwa akurasi rapid test antigen berbeda dengan rapid test antibody yang biasa digunakan. Untuk mendeteksi COVID-19, rapid test antigen memiliki akurasi spesifisitas hingga 98%.

“Jika dibandingkan dengan rapid tes yang sebelumnya beredar (tes antibodi), rapid tes ini memiliki akurasi yang lebih tinggi karena mendeteksi langsung virus SARS-CoV-2, dengan sensitivitas 90% dan spesifisitas 98%,” ucapnya.

Meskipun hingga kini belum banyak digunakan di Indonesia, Bagir menyebutkan bahwa produk mereka sudah dikenalkan kepada pihak berwenang saat peresmian produk rapid test antigen mereka.

“Kami sudah mengenalkan secara sekilas produk yang kami produksi kepada pihak-terkait. Acara peresmian produksi perdana kami, tanggal 17 Agustus 2020 dihadiri juga oleh perwakilan dari BNPB,”pungkasnya.

Sebelumnya, World Health Organization (WHO) tengah akan membagikan 120 juta alat rapid test antigen untuk 133 negara berkembang. Pemerintah Indonesia saat ini sedang mengajukan permohonan kepada World Health Organization (WHO) untuk mendapatkan bantuan rapid test antigen.