Rapuhnya Candi Borobudur dan Polemik Tarif Rp 750 Ribu

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung Candi Borobudur sebelum pandemi. Foto: YouTube/Balai Konservasi Borobudur
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung Candi Borobudur sebelum pandemi. Foto: YouTube/Balai Konservasi Borobudur

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan kembali mengehebohkan publik. Pasalnya, ia sempat mengatakan ingin mengubah tarif masuk ke Candi Borobudur menjadi Rp 750 ribu per orang yang diperuntukkan bagi wisatawan lokal.

"Kami juga sepakat dan berencana untuk membatasi kuota turis yang ingin naik ke Candi Borobudur sebanyak 1.200 orang per hari, dengan biaya 100 dolar AS untuk wisman dan turis domestik sebesar 750 ribu rupiah. Khusus untuk pelajar, kami berikan biaya 5.000 rupiah saja," kata Luhut lewat akun Instagram, dikutip Minggu (5/6).

Infografik Tarif Baru Wisata Candi Borobudur. Foto: kumparan

Belakangan, tarif Rp 750 ribu yang dimaksud Luhut ternyata untuk harga naik ke atas candi. Sementara jika wisatawan lokal ingin masuk hingga ke pelataran, tarifnya tetap sama seperti dulu, yaitu Rp 50 ribu per orang.

Di tahun 2021 hingga 2022, biaya masuk ke Candi Borobudur hanya dikenakan Rp 50 ribu bagi turis lokal dan Rp 360 ribu bagi turis mancanegara. Tarif tersebut berlaku bagi mereka yang ingin bermain di area taman maupun naik ke candi. Sementara, untuk turis lokal yang berusia 3-10 tahun dikenakan tarif masuk sebesar Rp 25 ribu, begitu juga dengan pelajar.

Saat ini, dibandingkan dengan harga tiket masuk 6 keajaiban dunia lainnya, tarif Rp 750 ribu untuk bisa naik ke Candi Borobudur termasuk paling mahal di antara Machu Picchu, Peru hingga Tembok Besar China.

embed from external kumparan

Rata-rata tarif masuk destinasi wisata 7 keajaiban dunia tersebut berada di kisaran Rp 9 ribu sampai Rp 300 ribu. Sementara, tiket Machu Pichhu, Peru, masih sedikit lebih murah dibandingkan Candi Borobudur, yakni sebesar Rp 600 ribu bagi turis lokal dan Rp 950 ribu bagi turis mancanegara.

Harga tiket Machu Pichhu yang dibanderol seharga Rp 600 ribuan bagi wisatawan lokal itu, misalnya, sudah termasuk fasilitas masuk ke candi, taman, pemukiman, akses mata air, dan beberapa struktur bangunan lain. Selain itu, wisatawan juga bisa memilih dua perjalanan destinasi tambahan, yaitu menuju puncak Intipunku atau jembatan Inca.

Ilustrasi kuil di Machu Picchu. Foto: Shutter Stock

Memang penerapan tarif masuk Candi Borobudur Rp 750 ribu ini diklaim sebagai upaya untuk membatasi jumlah pengunjung yang naik ke stupa. Tujuannya agar minimalisir keausan tangga dan lantai Candi Borobudur.

“Tekanan alas kaki pengunjung telah menunjang keausan tangga dan lantai Candi Borobudur yang berdasarkan kajian sebesar 0,175 centi per tahun,” kata Kepala Balai Konservasi Borobudur Wiwit Kasiyati, Senin (6/6).

Selain itu, tarif yang lumayan mahal untuk naik ke atas dilakukan untuk menghindari sampah pengunjung yang menumpuk, vandalisme pada batuan dan dinding candi, hingga degradasi keterawatan relief Candi Borobudur.

Berdasarkan data dari Balai Konservasi Borobudur, laju keausan batu di bagian tangga sisi utara Candi Borobudur bertambah 0,2-o,5 cm setiap tahunnya. Hingga tahun 2008, nilai keausan batu di Candi Borobudur di sisi utara sudah mencapai 4,4 cm. Data ini yang paling baru di websitenya.

embed from external kumparan

Situasi yang sama pun terjadi di bagian tangga sisi timur Candi Borobudur. Pada tahun 2008, pengikisan batu bahkan sudah mencapai 2,2 cm. Itu setara dengan dua smartphone android yang ditumpuk.

Jika pengikisan batu itu konsisten di angka 0,175 cm per tahun, maka pada tahun 2021, keausan batu sudah mencapai sekitar 14 cm.

embed from external kumparan

Maka, aturan tentang pembatasan pengunjung menjadi 1.200 orang per hari mungkin bisa menjadi langkah yang tepat. Sebab, tingkat keausan batu itu berbanding lurus dengan gesekan alas kaki yang dipakai oleh pengunjung.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisatawan domestik di tahun 2018 dan 2019, paling rendahnya saja bisa mencapai 100.000 orang per bulan.

embed from external kumparan

Di bulan-bulan liburan seperti akhir tahun, turis lokal bisa membeludak hingga 650.000 pengunjung. Pada Desember 2018, misalnya, turis lokal yang menyambangi Candi Borobudur pada bulan Desember mencapai 692.176. Sementara, di bulan yang sama pada tahun berikutnya, jumlah wisatawan domestik ada di angka 664.149.

Jika dirata-ratakan, pengunjung domestik harian pada bulan Desember dapat mencapai 22 ribu orang per hari. Maka, pembatasan 1.200 kunjungan ke atas candi setara dengan 5,45 persen pengunjung domestik di situasi normal.

Sementara itu, puncak tertinggi turis asing mengunjungi Candi Borobudur terjadi pada bulan Agustus 2019, yaitu sebesar 39.300 orang. Di tahun 2018, puncak pengunjung wisatawan Mancanegara juga terjadi di bulan yang sama mencapai 30.166 orang.

embed from external kumparan

Meski begitu, membatasi jumlah wisatawan dengan menerapkan harga tiket yang begitu mahal justru menimbulkan masalah baru. Masalah yang dimaksud adalah persoalan kelas.

Kini, Candi Borobudur dinilai semakin eksklusif lantaran kemegahan tersebut hanya bisa dinikmati kelompok masyarakat menengah ke atas hingga atas.

Sejarawan dari Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Andi Achmadi mengungkap kenaikan tarif kunjungan naik ke Candi Borobudur sebagai bencana. Ia menolak wacana itu diberlakukan.

Delegasi pertemuan EDM-CSWG G20 berjalan mengelilingi kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (24/3/2022). Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

“Itu kan bencana ya dalam artian ilmu pengetahuan. Diseminasi pengetahuan. Hanya menjadikan warisan sejarah itu buat orang yang punya uang. Dan itu adalah suatu bencana nasional. Saya akan bilang seperti itu kalau itu diterapkan.” kata Andi kepada kumparan, Senin (6/6).

Senada dengan Andi, Pimpinan Sangha Theravada Indonesia, Bhiksu Sri Pannavaro Mahathera, mengatakan rencana pemerintah menaikkan harga tiket Candi Borobudur jadi Rp 750 ribu akan sangat memberatkan umat Buddha dalam beribadah di candi mereka sendiri.

“Sampai meninggal dunia pun tentu tidak akan mampu naik ke atas candi untuk melakukan ‘puja’ atau ‘pradaksina’ karena harus membayar biaya yang sangat mahal bagi mereka: Rp 750 ribu per orang,” tulis Bhiksu Pannavaro.

Lantas, bagaimana pendapatmu?

embed from external kumparan